Senin, 14 Des 2020 10:31 WIB

7 Gejala Jangka Panjang yang Banyak Dialami Penyitas COVID-19

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Virus Corona terbaru atau Sars-Cov-2 yang menjadi penyebab COVID-19 memang berbahaya. Tapi tampilannya di bawah mikroskop bisa sangat bertolak belakang. Gejala jangka panjang akibat infeksi virus Corona COVID-19. (Foto: NIAID)
Jakarta -

Gejala COVID-19 biasanya dialami para pasien setelah baru terinfeksi virus Corona. Tetapi, pasien yang telah sembuh dari infeksi tersebut juga bisa mengalami gejala COVID-19 jangka panjang.

Kondisi gejala jangka panjang ini bisa berlangsung lama setelah pasien COVID-19 pulih dari infeksi. Biasanya dapat berlangsung beberapa minggu atau lebih dari itu.

Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa gejala jangka panjang ini bisa ditentukan dari gejala yang berkembang di minggu pertama infeksi. Dikutip dari Times of India, berikut ini sederet gejala jangka panjang yang paling umum dikeluhkan para pasien COVID-19.

1. Kelelahan

Orang-orang yang terinfeksi COVID-19 mengeluh mengalami kelelahan yang parah atau kronis. Kelelahan kronis ini bisa menyerang pasien yang mengalami gejala ringan atau sedang dan bisa terjadi dalam jangka panjang.

Gejala jangka panjang ini bisa terjadi setelah tubuh melawan infeksi virus. Beberapa bahkan mengatakan bahwa kelelahan ini menjadi gejala yang membutuhkan waktu paling lama untuk pulih pasca infeksi.

2. Nyeri otot

Kelelahan pasca infeksi COVID-19 juga ditandai dengan kelesuan dan nyeri otot. Rasa nyeri ini mungkin disebabkan karena peradangan yang terjadi di dalam tubuh akibat virus Corona.

Selain itu, para pasien COVID-19 yang sudah sembuh juga bisa mengalami nyeri otot. Nyeri otot ini disebabkan oleh kerusakan pada serat otot akibat virus dan kerusakan jaringan abnormal di tubuh.

3. Batuk berkepanjangan

Viral load virus yang tertinggal pada saluran pernapasan bagian atas bisa menyebabkan gejala batuk yang berkepanjangan. Gejala COVID-19 jangka panjang ini bisa berlangsung selama 5-6 minggu atau lebih.

Batuk yang dialami bisa bersifat kering atau produktif (basah), yang membuat saluran pernapasan dan tenggorokan lebih stres.

Selanjutnya
Halaman
1 2


Simak Video "Virus Corona Mengancam Kerusakan Otak"
[Gambas:Video 20detik]