Kamis, 17 Des 2020 10:55 WIB

Sri Lanka Kremasi Paksa Jenazah Muslim Pasien COVID-19

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Ilustrasi jenazah Jenazah pasien COVID-19 di Sri Lanka dikremasi. (Foto: Thinkstock)
Jakarta -

Pemerintah Sri Lanka menerapkan kebijakan untuk mengkremasi jenazah pasien COVID-19. Aturan ini juga berlaku bagi jenazah muslim di sana.

Dikutip dari BBC, pemerintah Sri Lanka mengeluarkan kebijakan pada bulan April yang mengamanatkan kremasi sebagai satu-satunya metode penguburan untuk semua kematian terkait COVID-19. Aturan baru itu memicu kekhawatiran di kalangan Muslim di negara itu, yang merupakan 10 persen dari 21 juta penduduk Sri Lanka.

Meskipun pedoman Organisasi Kesehatan Dunia mengatakan korban dapat "dikuburkan atau dikremasi", peraturan COVID-19 pemerintah Sri Lanka mengatakan bahwa jenazah "semua korban COVID-19 akan dikremasi dalam waktu 24 jam setelah kematian".

Sri Lanka mewajibkan kremasi di tengah kekhawatiran yang disebarkan oleh para biksu Buddha yang berpengaruh, bahwa menguburkan jenazah dapat mencemari air tanah dan menyebarkan penyakit.

Wartawan BBC Sinhala, Saroj Pathirana, mengatakan sejauh ini ada 85 warga Muslim yang dikremasi.

"Kremasi tetap dilakukan walaupun sejumlah keluarga menolak menandatangani surat persetujuan untuk kremasi," kata Saroj.

Dalam sebuah surat kepada Perdana Menteri Sri Lanka Mahinda Rajapaksa, Koordinator Residen Perserikatan Bangsa-Bangsa di Kolombo Hanaa Singer mendesak pemerintah Sri Lanka untuk meninjau kembali pedomannya.

"Asumsi umum bahwa orang yang meninggal karena penyakit menular harus dikremasi untuk mencegah penyebaran tidak didukung oleh bukti. Sebaliknya, kremasi adalah masalah pilihan budaya dan sumber daya yang tersedia," tulis Singer.

Dua belas petisi dari masyarakat sipil, keluarga Muslim dan Katolik menentang aturan kremasi di Mahkamah Agung, menuntut bukti atas klaim tentang penguburan yang mencemari air tanah. Hanya saja pengadilan menolak semua petisi tersebut.

Pihak berwenang bahkan meminta mereka yang diduga meninggal karena COVID-19 juga dikremasi.

Dr Sugath Samaraweera, pakar epidemiologi pemerintah, kepada BBC mengatakan sudah menjadi kebijakan pemerintah semua pasien yang diduga meninggal dunia akibat COVID-19 dikremasi. Ia mengatakan jika dimakamkan dikhawatirkan jenazah akan mencemari air tanah, yang banyak dimanfaatkan warga sebagai sumber air minum.



Simak Video "Apakah Jenazah Pasien Corona Bisa Menularkan Virus? Ini Kata WHO!"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/naf)