Kamis, 17 Des 2020 20:34 WIB

Sering Jadi Racun Mental Health, Ini Cara Hadapi Toxic Positivity

Inkana Putri - detikHealth
mendukung teman Foto: shutterstock
Jakarta -

Saat depresi, merasa sedih, atau marah sering sekali kita mendengar seseorang menyuruh untuk sabar, jangan bersedih, atau bahkan menahan emosi yang ada. Meskipun hal tersebut terbilang positif dan bermaksud untuk menyemangati, ternyata kata-kata itu juga dapat berubah menjadi sebuah toxic positivity.

Penulis sekaligus Psikiatris dr. Nova Riyanti menyampaikan pada dasarnya manusia punya normal untuk merasakan emosi. Bahkan, rasa emosi yang ditahan atau tidak dikeluarkan justru malah bisa menjadi emosional tersebut menjadi tak otentik.

"Memang toxic positivity itu menjadi sebuah over generalisasi keadaan bahwa segala sesuatu harus dibawa bahagia, optimis di segala situasi. Akibatnya apa? Malah kita bisa jadi denial dari emosi yang kita rasakan. Jadi, justru pengalaman emosional manusianya justru menjadi tidak otentik. Padahal manusia normalnya punya rentang emosi," ujarnya dalam acara Xtraordinary Festival dalam sesi Self Development, Kamis (17/12/2020).

Saat menghadapi toxic positivity, dr. Nova mengatakan sangat penting untuk mengeluarkan apa yang diri sendiri rasakan. Menurutnya, merasakan sedih atau merasa sedang tidak baik-baik saja adalah hal yang normal.

"Kita harus belajar juga untuk menghindari menekan emosi asli kita yang otentik tadi. Intinya to feel bad, sad, not okay justru menjadi hal yang normal, khususnya pandemi. Karena pada saat ini kita mencoba memproses segala sesuatu yang kita hadapi sekarang bukan hal yang mudah," katanya.

Di sisi lain, Influencer & Content Creator Gita Savitri bercerita tentang pengalamannya mendapat toxic positivity. Ia menyebut kata-kata yang menyuruh dirinya untuk menahan emosi yang dirasakan justru dapat membuatnya stres.

"Ini aku karena selama hidup disuruhnya kuat ya, sabar ya aku sampai bikin video soal toxic positivity. Soalnya istilahnya kayak aku lagi pingin marah, orang kayak bilang 'jangan marah dong', 'sabar dong'. Dan itu gak bisa, ini udah ditahan-tahan kalau makin lama gue bisa stress," ungkapnya.


Pasalnya, saat diri sendiri sudah sadar soal hal-hal yang terjadi, akan lebih mudah untuk mencegah toxic positivity masuk ke dalam diri. Gita menyarankan saat bertemu dengan toxic positivity, sebaiknya jangan langsung memasukkan hal-hal tersebut ke dalam diri. Ada baiknya untuk pahami dahulu apa yang diri sendiri rasakan dan penyebabnya.

"Kalau aku lagi dapetin toxic positivity dari orang-orang aku bener-bener gak mencoba meng-internalising kata-kata itu. Dengan cara kita harus tau diri kita, tau emosi dan behaviour yang kita punya. Diidentifikasi, dihadapi, jangan kayak dismising atau denial," katanya.

Xtraordinary FestivalXtraordinary Festival Foto: Inkana Putri

"Ketika kita udah clear terhadap apa yang kita rasakan, kita coba acknowledge itu. Karena at the end of the day, yang namanya manusia sangat normal merasakan marah, sedih. Kalau kita udah sadar akan the whole negatives, kita bisa lebih distancing diri kita dari toxic positivity dan accepting keadaan yang kita rasakan as a whole," imbuhnya.

Sama halnya dengan Gita, The Brain Of Menjadi Manusia Rhaka Ghanisatria pun menyebut merasakan emosi menjadi sebuah kunci menghadapi toxic positivity. Menangis dan berteriak menurutnya adalah hal yang sah dilakukan untuk merasakan emosi.

"Mungkin kata kuncinya adalah merasakan emosi. Ketika sedih dirasakan, menangis sekeras-kerasnya, teriak sekencang-kencangnya. Emosi memang harus dirasakan dan bukan untuk kita deny. Dan kata 'sabar aja' itu terkadang gak membantu, justru malah jadi menambah beban tersebut," pungkasnya.

(mul/ega)