Rabu, 30 Des 2020 15:37 WIB

BPOM Sebut Lansia Bisa Dapat Vaksin COVID-19, Tapi Masih Tunggu Data Uji

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Berisiko Picu Kanker, 67 Batch Obat Asam Lambung Ranitidin Ditarik BPOM. Kepala BPOM Penny K Lukito Kata BPOM soal vaksin Corona untuk lansia. (Foto: Rifkianto Nugroho/detikHealth)
Jakarta -

Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI mengatakan masih menunggu hasil interim data uji klinis vaksin Corona Sinovac di Bandung. Ini akan menjadi salah satu penilaian nantinya untuk pemberian izin penggunaan darurat (EUA).

Namun, vaksin Sinovac saat ini baru tersedia untuk rentang usia 17 sampai 59 tahun. Sebab, uji klinik yang selama ini dilakukan memang diberikan untuk orang-orang dalam rentang usia tersebut. Lalu, bagaimana untuk lansia (lanjut usia)?

"Kita memberikan vaksin yang ada saat ini yaitu Sinovac untuk rentang usia 17-59, karena memang uji kliniknya diberikan pada rentang usia tersebut. Namun sebetulnya, vaksin Sinovac juga sekarang di fase dua (uji klinis) untuk lansia. Jadi kita menunggu data tersebut yang sedang dilakukan kalau tidak salah di Brasil dan di China sendiri," jelas Kepala BPOM Penny K Lukito dalam konferensi pers virtual di Biofarma, Bandung Rabu (30/12/2020).

Penny mengatakan, jika hasil uji klinis fase tersebut sudah ada dan terbukti aman nantinya akan keluar Emergency Use Authorization (EUA) untuk kalangan usia lainnya, dalam hal ini lansia. Setelah hasilnya keluar, akan dilakukan analisa bridging analysis atau ekstrapolasi.

"Sehingga nanti setelah menunjukkan data yang aman, nanti akan keluar EUA yang khusus untuk periode umur yang lain, dalam hal ini untuk lansia. Jadi, ini adalah masalah data dari uji klinik, kalau sudah ada tentunya bisa diberikan pada umur yang lain termasuk lansia," jawab Penny.



Simak Video "Alasan BPOM Akhirnya Setujui Vaksin Sinovac untuk Lansia"
[Gambas:Video 20detik]
(sao/up)