Jumat, 15 Jan 2021 17:05 WIB

Bagaimana Cara Menenangkan Keluarga Korban Bencana? Ini Saran Psikolog

Firdaus Anwar - detikHealth
Warga melintasi tiang listrik yang melintang di jalan raya pascagempa bumi,  di Mamuju, Sulawesi Barat, Jumat (15/1/2021). Petugas BPBD Sulawesi Barat masih mendata jumlah kerusakan dan korban akibat gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,2 tersebut. ANTARA FOTO/Akbar Tado/wpa/hp. Gempa di Mamuju menimbulkan korban jiwa dan kerusakan yang luas. (Foto: ANTARA FOTO/AKBAR TADO)
Jakarta -

Jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ182 diikuti bencana gempa dan longsor menimbulkan kesedihan mendalam bagi sebagian warga Indonesia. Korban dan keluarganya dapat mengalami trauma sehingga tidak menutup kemungkinan butuh bantuan secara fisik maupun psikologis.

Psikolog klinis Kasandra Putranto dari Ikatan Psikolog Klinis (IPK) Indonesia menjelaskan perlu ada rasa simpati dan empati untuk korban atau keluarganya. Bila ada kesempatan berinteraksi, maka sebisa mungkin hindari bertanya-tanya hal yang dapat mengorek pengalaman buruk.

Cukup dengan jadi pendengar yang baik, atau bila perlu berikan sesuatu yang mungkin dibutuhkan.

"Kadang kata-kata itu tidak diperlukan. yang diperlukan itu lebih pada perhatian, pelukan, ekspresi seperti sudah makan belum...," kata Kasandra dalam program eLife, Jumat (15/1/2021).

Bila ada korban atau keluarga yang menangis, jangan dilarang. Kasandra menyebut ini sebagai proses yang normal dalam menghadapi kesedihan.

"Berikan informasi pada tempatnya. Informasi identifikasi, ganti rugi, atau hal-hal lain yang mesti dikerjakan. Paling penting adalah agar korban dan keluarganya mendapat pelayanan yang manusiawi dan selayaknya," pungkas psikolog Kasandra.



Simak Video "Pahami Fase ini Jika Ada Teman yang Keluarganya Wafat"
[Gambas:Video 20detik]
(fds/fds)