Selasa, 19 Jan 2021 17:22 WIB

Soal Hoax Vaksin jokowi, Pakar: Suntik Tak Harus Tegak Lurus

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Jakarta -

Warganet ramai mengomentari proses vaksinasi COVID-19 yang diterima Presiden Jokowi, Rabu (13/1/2021) lalu. Salah satu yang disoroti adalah proses penyuntikan vaksin COVID-19 Jokowi.

Beredar pula pesan berantai seorang dokter yang menyimpulkan vaksinasi COVID-19 Jokowi dilakukan dengan tidak benar dan harus diulang. Pesan tersebut menyatakan injeksi vaksin Sinovac tidak menembus otot dan terlihat tidak tegak lurus.

"Menyuntik itu tidak harus selalu tegak lurus dengan cara intramuskular. Itu pemahaman lama alias usang dan jelas sekali kepustakaannya," tulis Ketua Satgas COVID-19 dari Ikatan Dokter Indonesia Prof Zubairi Djoerban di akun Twitternya seperti yang dilihat detikcom, Selasa (19/1/2021).

Dokter spesialis penyakit dalam konsultan hematologi-onkologi ini juga menyebut sudut 90 derajat untuk injeksi intramuskular sebenarnya hanya teori. Pasalnya, injeksi yang diberikan pada 72 derajat, hasilnya mencapai 95 persen dari kedalaman suntikan yang diberikan pada derajat 90.

"Apa yang dilakukan Profesor Abdul Muthalib sudah benar. Tidak diragukan," lanjutnya kemudian.

Diwawancara terpisah, spesialis jantung dan pembuluh darah dari RS Siloam Karawaci dr Vito A Damay, mengatakan memang secara teknis, vaksin disuntikkan ke jaringan otot atau intramuskular. Untuk mencapai jaringan otot, tipsnya adalah mengarahkan suntikan sampai berbentuk sudut 90 derajat.

Apabila suntikan terlalu datar, ditakutkan vaksin akan masuk ke dalam jaringan di bawah lapisan kulit di antara otot. Namun yang perlu dipahami adalah ketika melakukan vaksinasi, vaksinator atau orang yang menyuntikkan vaksin, akan bisa memperhitungkan sendiri mereka telah menyuntik area jaringan otot.

"Suntikan 90 derajat itu teorinya agar jarum suntiknya masuk di antara otot. kalau misal vaksinatornya sudah liat, sudah tegangkan kulitnya, sudah regangkan kulitnya, dia sudah pastikan suntikannya masuk ke dalam jaringan otot, itu sudah nggak apa-apa," jelas dr Vito.

(kna/up)