Rabu, 20 Jan 2021 09:42 WIB

Sedihnya Negara Ini Hanya Kebagian 25 Dosis Vaksin COVID-19

Firdaus Anwar - detikHealth
Petugas medis memberikan vaksin Sinovac kepada Tenaga Kesehatan Puskesamas Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara, Kamis (14/1). Pada hari pertama pemberian vaksin Sinovac, terdapat 11 orang tenaga kesehatan yang disuntik vaksin di Puskesma Kecamatan Cilincing. Vaksin COVID-19. (Foto ilustrasi: Pradita Utama)
Jakarta -

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) berkali-kali memperingatkan masalah keadilan distribusi vaksin COVID-19. Disebutkan bahwa bila ada negara yang tertinggal cakupan vaksinasinya maka pandemi tetap tidak akan berakhir dan mengganggu perekonomian dunia lebih lama.

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus menyebut dunia saat ini berada di ambang bencana moral. Negara berlomba-lomba mengamankan suplai vaksin untuk rakyatnya sendiri, tanpa terlalu memperdulikan kebutuhan secara global.

"Bila kita tidak bekerja sama, maka dunia menghadapi bencana moral yang bebannya akan dibayar oleh nyawa dan kehidupan orang-orang di negara miskin," kata Tedros seperti dikutip dari situs resmi WHO, Rabu (20/1/2021).

Tedros menyebut ada kesenjangan suplai vaksin COVID-19 yang begitu menyedihkan di antara negara kaya dan miskin. Sebanyak 39 juta dosis vaksin sudah digunakan oleh 49 negara berpenghasilan tinggi, sementara salah satu negara berpenghasilan rendah baru mendapat 25 dosis vaksin saja.

"Hanya 25 dosis vaksin yang diberikan di salah satu negara berpenghasilan terendah. Bukan 25 juta, bukan 25 ribu, hanya 25," kata Tedros.

Dikutip dari The Guardian, Republik Guinea diketahui jadi satu-satunya negara berpenghasilan rendah yang sudah melakukan program vaksinasi COVID-19. Sebanyak 25 dosis Vaksin COVID-19 "Sputnik" yang dikembangkan Rusia diberikan pada 25 orang, termasuk presidennya.



Simak Video "Vaksin COVID-19 Karya RI Pakai Sel Dendritik, Ini Cara Kerjanya"
[Gambas:Video 20detik]
(fds/up)