Kamis, 21 Jan 2021 13:15 WIB

Fakta-fakta Dexamethasone yang Diviralkan Lebih Manjur dari Vaksin COVID-19

Firdaus Anwar - detikHealth
Peneliti di Inggris menyatakan ujicoba pengobatan COVID-19 menggunakan dexamethasone menunjukkan keberhasilan dalam menyelamatkan nyawa pasien. Obat COVID-19 dexamethasone kembali viral di media sosial. (Foto: Getty Images/Matthew Horwood)
Jakarta -

Di media sosial Twitter viral unggahan netizen yang mempertanyakan motivasi pembelian vaksin COVID-19. Unggahan disertai dengan cuplikan berita soal dexamethasone yang bisa mengurangi angka kematian pada pasien COVID-19 dengan gejala berat.

"Wah panas dingin ini pemain Vaksin, mana udah borong pula Ratusan juta vaksin baik dari China maupun tempat lain, ternyata obatnya Covid murah," ujar sang netizen yang menduga Menteri BUMN Erick Thohir melakukan korupsi lewat impor vaksin.

Unggahan tersebut mengundang berbagai reaksi di antara netizen lain. Ada yang penasaran dengan dexamethasone, ada juga yang menyebut obat tidak bisa dibandingkan dengan vaksin.

Berikut fakta-fakta soal dexamethasone sebagai obat COVID-19:

1. Bukan informasi baru

Dexamethasone sebagai obat COVID-19 sebetulnya bukan hal yang baru. Kabar ini pertama kali muncul di bulan Juni 2020 saat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengumumkan temuan awal uji klinis di Inggris.

Kala itu belum ada vaksin COVID-19 yang bisa digunakan dan dunia masih mencari terapi-terapi efektif untuk mengurangi angka kesakitan dan kematian akibat COVID-19. Disebutkan bahwa pemberian dexamethasone pada pasien dengan gejala berat dapat mengurangi tingkat kematian sampai sepertiga bila dibandingkan pasien yang tak diberi obat.

Selain dexamethasone, obat lainnya yang juga diteliti untuk pasien COVID-19 mulai dari avigan, klorokuin, remdesivir, dan lopinavir-ritonavir.

2. Hanya untuk pasien kritis

Penggunaan dexamethasone hanya disarankan bagi pasien COVID-19 yang mengalami gejala berat atau kritis. Studi menemukan obat tidak memberi dampak pada mereka yang bergejala ringan-sedang, malah berisiko menimbulkan komplikasi karena efek samping.

Ini karena dexamethasone bekerja dengan cara menekan sistem kekebalan tubuh. Pada pasien dengan gejala berat biasanya terjadi peradangan akibat reaksi dari sistem imun yang 'mengganas'.

"WHO tidak menyarankan penggunaan obat kortikosteroid (jenis-jenis obat seperti dexamethasone -red) pada pasien dengan gejala COVID-19 ringan. Kecuali bila pasien diketahui sudah menggunaan obat sejenis sebelumnya," tulis WHO.

3. Harus dengan resep dokter

Meski dexamethasone tergolong murah dan mudah didapat, para ahli mengimbau masyarakat tidak sembarangan mengonsumsinya. Ahli penyakit dalam yang juga dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Prof Dr dr Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, menyebut dexamethasone sebagai obat keras.

"Itu obat yang terus terang saja efek sampingnya cukup besar," kata Prof Ari pada detikcom beberapa waktu lalu.

Beberapa efek samping dexamethasone seperti dijelaskan Prof Ari antara lain:

  • Tekanan darah naik

  • Gula darah naik

  • Daya tahan tubuh menurun, bisa kena infeksi lain

  • Tulang keropos dalam jangka panjang

4. Obat vs vaksin

Pada akhirnya dexamethasone bekerja sebagai obat untuk membantu pasien sembuh. Sementara itu vaksin COVID-19 bekerja sebagai pencegah agar orang-orang tidak terinfeksi atau mengalami gejala COVID-19 yang berat.

WHO menyebut vaksin COVID-19 diperlukan sebagai salah satu faktor untuk menghentikan pandemi.

"Sebagian besar ilmuwan, sama seperti pada vaksin lain, mengantisipasi bahwa vaksin COVID-19 tidak akan benar-benar bisa sampai 100 persen efektif. WHO akan terus bekerja untuk memastikan bahwa vaksin yang disetujui memiliki efektivitas setinggi mungkin sehingga membawa dampak besar terhadap pandemi," kata WHO.



Simak Video "Obat-obatan Langka dan Mahal, Kemenkes: Jangan Panic Buying!"
[Gambas:Video 20detik]
(fds/kna)