Rabu, 27 Jan 2021 17:36 WIB

Hoaks COVID-19 Menjamur, Kominfo Siapkan Sanksi Bagi Pembuat dan Penyebar

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Folder of Coronavirus covid19 2019 nCoV outbreak Virus Corona COVID-19. (Foto: Getty Images/iStockphoto/oonal)
Jakarta -

Sejak pandemi COVID-19 muncul di Indonesia pada Maret 2020 lalu, telah banyak berita hoaks atau berita bohong beredar di media sosial. Data dari Kementerian Komunikasi dan Informasi menunjukkan hingga 26 Januari 2021 terdapat 1.387 isu hoaks yang tersebar di berbagai platform digital.

Direktur Jenderal Aplikasi Informatika Kemkominfo Semuel A. Pangerapan menyebut peredaran hoax melonjak sejak program vaksinasi COVID-19 dimulai pada 13 Januari lalu.

"Salah satu hoaks yang beredar menyebutkan adanya alat pelacak di barcode di vaksin Covid-19, faktanya barcode pada kemasan vaksin adalah untuk melacak distribusi vaksin. Pelacakan tidak terdapat pada tubuh orang yang disuntik vaksin, melainkan pada kemasan. Kominfo pun menandai informasi itu sebagai hoaks," jelasnya dalam keterangan resmi seperti yang dilihat detikcom, Rabu (27/1/2021).

Hoaks di Indonesia masih terus menjamur karena masih ada oknum tidak bertanggung jawab yang dengan sengaja membuat dan menyebarkannya. Dirjen Semuel menegaskan Pemerintah melalui Kominfo terus berkomitmen memberantas penyebaran hoaks, salah satunya dengan memberi sanksi tegas.

"Artinya apa? Masyarakat hati-hati juga, apalagi kalau penyebaran hoaks ditemukenali secara sengaja sudah pasti kita mengetahuinya dan akan kita kejar. Tapi jika ada masyarakat yang tidak tahu namun ikut menyebarkan, itu juga merupakan tindakan yang berbahaya yang ada sanksinya," tegasnya.

Apabila berita yang disebarkan tidak sampai mengganggu ketertiban umum, Samuel mengatakan pihaknya akan menyebarkan fakta klarifikasi melalui diseminasi informasi. Namun apabila berita hoaks tersebut sudah mengganggu ketertiban umum, pihaknya tidak menutup kemungkinan akan lapor ke polisi untuk ditindaklanjuti.

Samuel menegaskan dengan data-data log file mesin pengais yang dimiliki, Kementerian Kominfo mengklaim mampu mendeteksi siapa pelaku yang mengunggah konten hoaks pertama kalinya maupun melihat yang menjadi inisiatornya.

Saat ini sudah ada 104 kasus yang ditangani kepolisian terkait hoaks COVID-19.



Simak Video "Hoax Vaksin Timbulkan Varian Baru dan Sebabkan Kematian Dalam 2 Tahun!"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/fds)