Minggu, 31 Jan 2021 11:01 WIB

4 Fakta Tes COVID-19 Saliva, Tes Corona yang Disebut Bakal Ganti PCR

Farah Nabila - detikHealth
Petugas melakukan uji Swab Antigen atau PCR di Swab Drive Thru Rumah Sakit Pondok Indah (RSPI) Bintaro, Tangerang, Jumat (20/11/2020). Dengan penyediaan fasilitas ini membuat masyarakat lebih nyaman dan aman tanpa harus kontak dengan banyak orang. Ilustrasi pemeriksaan COVID-19. (Foto: Grandyos Zafna)
Jakarta -

Jenis tes COVID-19 yang umum digunakan saat ini adalah rapid test antigen dan swab Polymerase Chain Reaction (PCR). Tes COVID-19 PCR dinilai sebagai metode dengan tingkat akurasi yang paling tinggi.

Saat ini pemerintah menyebut tengah mempertimbangkan metode lain untuk pengujian COVID-19, yakni dengan tes saliva atau air liur. Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (Menristek/Kepala BRIN) Bambang Brodjonegoro mengatakan sejumlah lembaga tengah melakukan penelitian terhadap metode tes COVID-19 dengan saliva.

"Di tahun 2021 ini di dalam rangka mempercepat dan memperluas tes PCR, kami sedang melakukan penelitian untuk mengganti swab dengan saliva. Saliva adalah air liur, sedangkan swab itu adalah cairan yang diambil dari belakang hidung kita," kata Bambang dalam webinar ILUNI UI, Sabtu (30/1/2021).

Lalu, seperti apa tes COVID-19 saliva? Dikutip dari beberapa sumber, berikut fakta-fakta tes saliva sebagai tes pendeteksi virus Corona.

1. Menggunakan air liur

Tes COVID-19 saliva adalah metode pendeteksi virus Corona dengan menggunakan sampel air liur. Dikutip dari WebMd, tes saliva mendeteksi materi genetik virus dalam sampel air liur dengan kecepatan yang sama seperti metode swab yang mengumpulkan materi melalui mulut atau hidung.

Sebuah penelitian yang dilakukan peneliti dari Memorial Sloan Kettering mengumpulkan sampel dari 285 karyawan pada puncak wabah COVID-19 di New York. Para partisipan memiliki gejala atau pernah terpapar COVID-19.

Masing-masing partisipan memberikan sepasang sampel. Beberapa diminta untuk melakukan metode swab nasofaring yang diambil melalui hidung dan sampel air liur. Beberapa partisipan lain, melakukan metode swab orofaringeal yang dikumpulkan melalui mulut dan air liur.

Kemudian, beberapa partisipan diminta menggunakan metode swab nasofaring dan sampel dari berkumur, metode pengumpulan lain yang sedang diuji. Hasilnya, peneliti menemukan bahwa kesepakatan antara saliva dan swab yang diberikan melalui mulut adalah 93 persen, dan sensitivitasnya adalah 96,7 persen.

Metode swab yang diberikan melalui hidung dan air liur memiliki hasil yang sesuai 97,7 persen, dengan sensitivitas 94,1 persen. Sedangkan metode berkumur hanya efektif 63 persen dalam mendeteksi virus. Kesepakatan antara metode swab hidung dan berkumur adalah 85,7 persen.

2. Sampel bisa bertahan hingga 24 jam

Sampel air liur stabil hingga 24 jam bila disimpan dengan kantong es atau pada suhu ruang.

Peneliti mendeteksi tidak ada perbedaan konsentrasi pada saat pengumpulan, delapan jam kemudian atau 24 jam kemudian.

3. Mengurangi risiko penyebaran virus

Sampel air liur yang dikumpulkan sendiri sama baiknya dalam mendeteksi COVID-19 seperti swab hidung yang diberikan oleh petugas kesehatan. Metode ini dinilai lebih aman karena bisa meminimalisir terjadi penyebaran virus pada staf medis saat mengumpulkan sampel.

"Pandemi saat ini telah memberikan tekanan yang signifikan pada rantai pasokan, dari swab hingga alat pelindung diri (APD) yang dibutuhkan petugas kesehatan untuk mengumpulkan sampel dengan aman," jelas ketua peneliti Esther Babady, direktur layanan mikrobiologi klinis di Memorial Sloan Kettering Pusat Kanker di New York City.

"Penggunaan air liur yang dikumpulkan sendiri memiliki potensi untuk meminimalkan penyebaran virus ke petugas kesehatan dan mengurangi kebutuhan perangkat khusus, seperti swab dan media transportasi virus," ujarnya.

4. Sudah dilakukan di sejumlah negara

Tes COVID-19 saliva sudah dilakukan di sejumlah negara. Dikutip dari Reuters, Singapura telah menyetujui menggunakan alat tes COVID-19 dari Advanced MedTech Holdings untuk digunakan dalam menguji air liur dari dalam tenggorokan.

"Pasien hanya perlu mengeluarkan air liur dari dalam tenggorokan dan meludah ke dalam botol spesimen untuk tes," ujar Advanced MedTech.

Selain itu, beberapa negara lain seperti Hong Kong dan Taiwan sudah menggunakan sampel air liur sebagai alat pendeteksi virus Corona.



Simak Video "Detail Rencana Bio Farma Produksi Tes PCR Kumur-kumur 'Bio Saliva'"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/kna)