Kamis, 11 Feb 2021 13:19 WIB

Pesan Dokter untuk Nakes yang Masih Enggan Divaksin Gegara Ragu

Mustiana Lestari - detikHealth
BPJS Kesehatan Foto: Mustiana Lestari
Jakarta -

Vaksinasi COVID-19 untuk tenaga medis atau nakes yang sudah digelar sejak 14 Februari, disambut antusias oleh nakes. Kendati demikian, tak jarang vaksinasi juga masih diragukan sejumlah pihak, termasuk di antara para nakes tersebut.

Dokter Anak dr Dwi Oktari bersama suami dr Dani Setiawan menjadi salah satu peserta vaksinasi yang mengikuti prosedur pendataan P-Care dari BPJS Kesehatan. Meski sempat tegang, keduanya menjalani vaksinasi dengan lancar, dr Dwi mengaku vaksin ini membuat dirinya merasa lebih aman dalam bertugas.

"Tentunya kita akan merasa lebih dilindungi dan fokus. Dan kita ga disatukan dengan yang bukan nakes jadi lebih efektif," kata dr Dwi kepada detikcom di RSUD Sumedang, Kamis (11/2/2021).

Dia mengakui banyak rekannya yang meragu soal efektivitas vaksin Sinovac. Kendati demikian, dia menyebut vaksinasi merupakan langkah terbaik membantu pemerintah dalam menekan virus COVID-19.

"Kejadian pascavaksinasi tidak bisa kita prediksi dari awal. Intinya ini adalah ikhtiar, jalan mengakhiri pandemi itu vaksin. Kalau nggak mau vaksin akan jauh lebih lama dan sulit dan tiada akhir. Mungkin vaksin yang ada sekarang ada akan lebih baik,"tandasnya

Walau begitu, menurutnya sebagai sasaran yang dapat keiistimewaan mendapat vaksinasi pertama, para nakes sebenarnya dapat mengantisipasi efek atau kejadian pascavaksinasi. Sebabnya, mereka lebih memahami keadaan tubuh mereka secara medis.

"Dari sejak awal setidaknya sebelum vaksin apalagi nakes, kita bisa secara secara teliti dan cermat mengidentifikasi diri ada komorbid apa ada penyulit di masing-masing individu. Meminimalisir kejadian yang tidak diinginkan," lanjut dia.

Dirut RSUD Sumedang Dr.dr.H Aceng Solehudin mengakui vaksinasi memang sempat membuat khawatir nakes, namun kini jajarannya semakin menyadari pentingnya vaksinasi.

"Ada yang nggak mau awal-awal emang pada takut sampai tapi sekarang gak karena gak ada kejadian pascaimunisasi," tukasnya.

detikcom berkesempatan meninjau langsung proses vaksinasi tenaga kesehatan di RSUD Sumedang yang didata melalui P-Care, dr Dwi adalah salah satunya. Proses pendataan vaksinasi dilakukan dengan registrasi terlebih dahulu di meja 1. Kemudian dicek tensi darah dan suhu tubuh di meja 2, divaksinasi di meja 3 dan terakhir observasi selama 30 menit hingga mendapatkan sertifikat telah divaksin di meja 4.

Dirut BPJS Kesehatan Fachmi Idris pun datang untuk melihat langsung efektivitas P-Care. Dalam kesempatan tersebut Fachmi juga mengimbau fasilitas kesehatan untuk dapat secara rutin melakukan input data layanan vaksinasi.

Hal ini penting, karena data tersebut akan dipergunakan untuk memantau, mempercepat pelaksanaan vaksinasi sesuai dengan target dari pemerintah sehingga diharapkan dapat mempercepat upaya penanggulangan pandemi COVID-19.

"Apabila terjadi kendala teknis, tentu tim BPJS Kesehatan siap membantu untuk penyelesaian," tambah Fachmi.

BPJS KesehatanBPJS Kesehatan Foto: Mustiana Lestari

Diketahui, aplikasi P-Care Vaksinasi ini adalah bagian terintegrasi dari Sistem Satu Data Vaksinasi COVID-19 yang mendukung proses pencatatan dan pelaporan pelayanan vaksinasi di fasilitas kesehatan. Data hasil input P-Care Vaksinasi akan terintegrasi pada tabulasi dan dashboard Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPC-PEN).

Terdapat 13.839 fasilitas kesehatan di seluruh Indonesia sudah terintegrasi dengan P-Care Vaksinasi. Terdiri dari puskesmas, klinik, rumah sakit, KKP, dan pos vaksinasi lainnya.



Simak Video "Blak-blakan BPJS Kesehatan Surplus Rp 18,7 Triliun, Sebentar Lagi"
[Gambas:Video 20detik]
(mul/mpr)