Kamis, 11 Feb 2021 17:03 WIB

Catatan Pakar soal Rapid Antigen Jadi Alternatif PCR oleh Kemenkes

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Sebanyak 54 pengungsi korban gempa di Majene dan Mamuju, Sulbar, tiba di Solo. Para pengungsi pun menjalani rapid test antigen saat tiba di Bandara Adi Soemarmo Foto: Agung Mardika
Jakarta -

Kementerian Kesehatan kini menggunakan rapid test antigen sebagai alat diagnostik untuk konfirmasi kasus positif COVID-19 seperti halnya RT PCR untuk penelusuran kontak. Hal ini diupayakan untuk memperbaiki strategi testing, tracing, dan treatment (3T).

Meski menyambut baik upaya tersebut, pakar epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Indonesia, dr Syahrizal Syarif, MPH, PhD, memberikan catatan terkait penggunaan rapid antigen untuk penelusuran kontak. Pasalnya, menurut Syahrizal selama ini kemampuan puskesmas terkait penemuan kasus COVID-19 masih belum maksimal.

Alih-alih memastikan ketersediaan antigen di seluruh provinsi, peran puskesmas dalam menjalankan penelusuran kontak disinggung Syahrizal harus menjadi perhatian utama.

"Kuncinya itu bukan ketersediaan antigen di puskesmas. Tapi apakah puskesmas mampu melakukan penelusuran kontak dengan baik? Paling tidak 20 sampai 30 kontak erat harus ditemukan untuk setiap kasus," pesannya, saat live di FMB9_ID IKP, Kamis (11/2/2021).

"Nah ini yang saya lihat selama ini iya bahwa puskesmas tidak begitu mampu, oleh sebab itu saya kira perlu ada insentif paling tidak kepada puskesmas untuk bisa melakukan ini," lanjut Syahrizal.

Menurutnya, pengadaan rapid test antigen ke setiap puskesmas akan percuma jika penelusuran kontak pun tak dilakukan secara maksimal.

"Kalau tidak, antigen yang disebar ke 34 provinsi sayang sekali nanti tidak maksimal bisa digunakan," bebernya.

Menurutnya, rapid test antigen memang bisa digunakan sebagai alat diagnostik, selain RT PCR, di kondisi tertentu, merujuk pada pedoman WHO. Dikarenakan kapasitas lab di Indonesia masih belum memadai, penggunaan rapid test antigen untuk diagnostik penelusuran kontak bisa menjadi alternatif.



Simak Video "Catat! Ini Harga Maksimal Rapid Test Antigen di Indonesia"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)