Kamis, 18 Feb 2021 08:52 WIB

Viral Curhat Haru Anak Gambarkan Masa Kritis Sang Ayah Wafat Akibat COVID-19

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
viral curhat haru sang anak Foto: Tangkapan Layar viral (atas izin yang bersangkutan)
Jakarta -

Viral curhat seorang perempuan saat ayahnya meninggal akibat COVID-19 lantaran mengalami pembekuan darah di masa-masa kritisnya. Menurut penuturan Maria Melania, perempuan asal Tangerang, sang ayah sebelumnya bahkan sempat mengalami koma.

"Selama perawatan ddimer papaku selalu di cek. D-dimer papaku cukup tinggi yaitu diatas >10.000 yang biasanya org normal

Dalam wawancara dengan detikcom, ahli jantung dr Vito A Damay, SpJP(K) menjelaskan D-dimer merupakan fragmen protein yang menggambarkan risiko pembekuan darah. Fragmen tersebut muncul ketika ada bekuan darah larut dalam tubuh dan berisiko memicu penyumbatan.

Kembali ke cerita Melania, sang ayah yang tak kunjung membaik pun akhirnya diarahkan dokter untuk menjalani terapi plasma konvalesen. Terapi ini memberikan plasma darah pasien COVID-19 sembuh pada mereka yang masih kritis, dengan golongan darah yang sama.

Namun, perjuangannya saat mencari donor plasma darah pun tak mudah. Meski pada akhirnya ia bisa mendapat dua kantong darah untuk ayahnya.

"Aku sampai muter-muter mencari darah di pmi dan rspad. Karena memang sesusah itu mencari darah untuk terapi plasma. Aku di bantu oleh saudara yang lain akhirnya dapat 2kantong darah untuk papa," lanjut Maria.

Sebelum diberikan terapi plasma darah, kondisi ayahnya memang sudah memburuk. Fungsi paru-paru sang ayah disebut Maria menurun, meski sudah diberikan bantuan oksigen apapun, ayahnya masih tetap merasa sesak.

"Kata dokter paru-paru papaku sudah hampir rusak karna banyak cairan yang merusak fungsi kerja paru-paru," tuturnya.

Di dalam kondisi kritis akibat COVID-19, di ruangan ICU, Amel bercerita salah satu dokter yang merawat menyampaikan kalimat yang tak akan pernah ia lupakan.

"Kata-kata seorang dokter di ruang ICU Covid sehabis melakukan RJP (resusitasi jantung paru) kepada papaku yg menderita covid berat dan sedang coma: Yg namanya hidup ada yg lahir dan ada yg meninggal. Saya dan kamu, kita pasti bakal meninggal. Cuma kita ngga tau akhir cerita kita meninggal seperti apa," ceritanya.

Sayangnya, ayah Maria tak berhasil selamat meskipun sudah melakukan segala perawatan, termasuk plasma darah konvalesen. Kondisinya terus memburuk di hari-hari terakhirnya dan tak kunjung menunjukkan perbaikan.

"Setelah dilakukan 3hari (terapi plasma) tidak ada hasil sama sekali. Kondisi papaku masih tetap sama dengan ddimer penggumpalan darah yang tinggi. Semakin hari kondisi papa naik turun," sebutnya.

"Akhirnya pada tanggal 25 Januari 2021 papaku berpulang ke tangan Tuhan. Papaku meninggal di ruang ICU," pungkasnya.

Kepada detikcom, ia berpesan agar setiap orang tak menyepelekan bahaya COVID-19 dengan terus mematuhi protokol kesehatan.



Simak Video "Satgas Jelaskan Prosedur Penjemputan Pasien Positif Corona"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)