Rabu, 24 Feb 2021 10:00 WIB

7 Ancaman Berbahaya Selain COVID-19, dari Disease X hingga Virus Nipah

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Apakah Mutasi Virus Corona Akan Mengubahnya Jadi Jinak? Foto ilustrasi. (Foto ilustrasi: DW (News))
Jakarta -

Meski beberapa negara sudah mulai melonggarkan pembatasan dan kasus Corona di dunia, menurut WHO, sudah berkurang setengahnya di pekan lalu, masih ada ancaman selain COVID-19.

Ancaman tersebut mulanya diungkapkan para ilmuwan, diwaspadai menjadi pandemi berikutnya. WHO memasukkan sejumlah penyakit ke dalam daftar darurat kesehatan masyarakat. Artinya, diprioritaskan dalam penanganan dan terus dipantau.

Dikutip dari Mirror UK, tanpa penelitian yang tepat, sederet penyakit tersebut bisa menjadi ancaman selain COVID-19. Termasuk Ebola yang kembali mewabah di Guinea hingga Kongo, virus Zika, hingga Disease X.

"Di seluruh dunia, jumlah patogen potensial sangat besar, sementara sumber daya untuk penelitian penyakit terbatas," sebut WHO.

Berikut penyakit yang diwaspadai menjadi ancaman baru hingga masuk daftar WHO soal darurat kesehatan masyarakat.

1. Virus nipah

Para ilmuwan mengkhawatirkan dampak dari virus Nipah yang bisa memicu pembengkakan otak. Virus Nipah juga diketahui memiliki tingkat kematian hingga 75 persen, berpotensi menjadi pandemi berikutnya.

Selain pembengkakan otak, gejala lain yang ditemukan adalah muntah dan kejang. Virus Nipah pertama kali dilaporkan di Malaysia pada 1999, penularan pertama kali di manusia terjadi dari babi ke peternak setempat.

Beberapa orang yang mengidap virus Nipah juga bisa mengalami pneumonia dan masalah pernapasan yang parah, termasuk gangguan pernapasan akut.

Ensefalitis dan kejang terjadi pada kasus yang parah, kondisi ini kemudian semakin memburuk hingga bisa menyebabkan koma dalam waktu 24 hingga 48 jam. Tingkat kematian Nipah berkisar antara 40 hingga 75 persen, jauh lebih tinggi daripada tingkat kematian akibat COVID-19, menurut WHO.

2. Ebola

Virus Ebola adalah penyakit yang parah, seringkali fatal saat menyerang manusia usai ditularkan dari hewan liar, seperti kelelawar buah, primata, dan landak.

Ebola kemudian menyebar pada manusia melalui kontak langsung dengan darah atau cairan tubuh lain dari orang yang terinfeksi. Ebola memiliki tingkat kematian rata-rata sekitar 50 persen.

Gejala bisa muncul tiba-tiba, kebanyakan orang mulanya mengeluhkan demam, kelelahan, otot, nyeri, sakit kepala, dan sakit tenggorokan. Diikuti dengan muntah, diare, ruam, gejala gangguan fungsi ginjal dan hati, dan dalam beberapa kasus pendarahan.

Wabah Ebola baru-baru ini diumumkan di Guinea setelah tiga orang meninggal dan empat lainnya jatuh sakit. Ini adalah kebangkitan Ebola di sana sejak wabah terburuk antara 2013 dan 2016. Ebola juga muncul di Kongo dan menewaskan 4 orang.

3. Zika

Virus Zika terutama ditularkan melalui gigitan nyamuk yang terinfeksi, memicu kekhawatiran epidemi pada 2019. Sebagian besar Eropa utara diyakini terancam karena nyamuk Aedes berpindah dari Afrika.

Ada kekhawatiran khusus bagi wanita hamil karena penyakit ini ditularkan dari ibu ke janinnya, serta melalui hubungan seksual atau transfusi darah. Belum ada vaksin yang tersedia untuk pencegahan atau pengobatan infeksi virus Zika.

Gejala umumnya ringan termasuk demam, ruam, konjungtivitis, nyeri otot dan sendi, malaise, dan sakit kepala.

Tetapi infeksi selama kehamilan bisa menyebabkan mikrosefali, di mana kepala bayi kecil, dan kelainan bawaan lainnya pada janin yang sedang berkembang dan bayi baru lahir.

4. MERS dan SARS

WHO memasukkan kedua penyakit ini dalam daftar kedaruratan kesehatan masyarakat. MERS-CoV adalah virus yang ditularkan ke manusia dari unta yang terinfeksi.

Penyakit parah dapat menyebabkan gagal napas yang membutuhkan ventilator dan dukungan di unit perawatan intensif. Virus ini tampaknya menyebabkan penyakit yang lebih parah pada orang tua, orang dengan sistem kekebalan yang lemah, dan orang dengan penyakit kronis.

Sekitar 35 persen pasien dengan MERS-CoV telah meninggal.

Sementara itu, sindrom pernapasan akut parah (SARS), adalah penyakit pernapasan. SARS pertama kali diidentifikasi pada akhir Februari 2003 saat wabah yang muncul di China dan menyebar ke empat negara lain.

SARS adalah virus yang menyebar melalui udara dan dapat menyebar melalui tetesan kecil air liur dengan cara yang mirip seperti COVID-19.

Gejala pertama penyakit ini umumnya demam yang berujung pada batuk kering. Dalam 10 hingga 20 persen kasus, penyakit pernapasan cukup parah sehingga memerlukan intubasi dan ventilator. Angka kematian sekitar tiga persen.

5. Demam berdarah Krimea-Kongo

Demam berdarah Krimea-Kongo adalah virus yang ditularkan oleh kutu dan juga dapat tertular melalui kontak dengan hewan yang disembelih.

Gejala timbul tiba-tiba, dengan demam, nyeri otot, pusing, sakit leher, sakit punggung, sakit kepala, sakit mata dan fotofobia (kepekaan terhadap cahaya).

Pasien yang sakit parah mungkin mengalami kerusakan ginjal yang cepat, gagal hati mendadak, atau gagal paru setelah hari kelima sakit.

Demam memiliki rasio kematian kasus yang tinggi dari 10 hingga 40 persen.

6. Demam lassa

Manusia biasanya terinfeksi virus Lassa melalui paparan makanan atau barang-barang rumah tangga yang terkontaminasi air seni atau kotoran tikus Mastomys yang terinfeksi.

Penyakit ini endemik pada populasi hewan pengerat di beberapa bagian Afrika Barat. Infeksi dari orang ke orang dan penularan laboratorium juga dapat terjadi, terutama di tempat perawatan kesehatan jika tidak ada tindakan pencegahan dan pengendalian infeksi yang memadai.

Tingkat fatalitas kasus secara keseluruhan adalah 1 persen. Sekitar 80 persen orang yang terinfeksi virus Lassa tidak memiliki gejala.

1 dari 5 infeksi mengakibatkan penyakit parah, di mana virus menyerang beberapa organ seperti hati, limpa dan ginjal.

7. Disease X

Disease X adalah nama placeholder yang diadopsi oleh Organisasi Kesehatan Dunia tiga tahun lalu, mewakili patogen hipotesis yang belum diketahui tetapi dapat menyebabkan epidemi di masa depan.

Mark Woolhouse, profesor epidemiologi penyakit menular di Universitas Edinburgh, mengatakan bahwa pada 2017, dia dan rekan-rekannya meminta WHO untuk menambahkan Disease X ke dalam daftar darurat kesehatan masyarakat.

Virus baru yang potensial ini dapat disebabkan oleh penyakit "zoonosis" yaitu ketika infeksi berpindah dari hewan ke manusia.

WHO mengatakan bahwa 'epidemi internasional yang serius' dapat disebabkan oleh patogen yang saat ini tidak diketahui penyebab penyakit pada manusia.



Simak Video "RI Mirip Seperti Amerika soal COVID-19, Ini Saran Dr Faheem Younus"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/kna)