Rabu, 24 Feb 2021 14:15 WIB

Dialami Ashanty Saat Kritis, Siapa yang Berisiko Punya D-dimer Tinggi?

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Ashanty saat ditemui di kawasan Jagakarsa. Ashanty positif Corona. (Foto: Pool/Palevi S/detikFoto)
Jakarta -

Anang Hermansyah menyebut di masa kritis Ashanty positif Corona, D-dimernya tinggi. Kondisi Ashanty juga memburuk lantaran mengidap autoimun.

"Autoimun ini yang bisa trigger macam-macam. Trigger dipaksa ke rumah sakit dicek darah d-dimer-nya tinggi kekentalan darahnya sangat kental. Kalau ini nutupin saluran-saluran di pernapasan ini yang nggak bisa dikendalikan," tutur Anang Hermansyah.

Menurut ahli jantung dr Vito A Damay, D-dimer bisa dideteksi dan diperiksa dengan pemeriksaan lab dan pemeriksaan darah. Namun, siapa saja yang perlu dicek D-dimer selain pasien COVID-19?

"Orang yang kita curiga misalkan oh orang ini kayaknya saturasi tiba-tiba menurun jangan-jangan emboli paru kita cek D-dimer juga," beber dr Vito beberapa waktu lalu.

Selain itu, menurutnya, orang-orang yang berisiko seperti sehabis operasi dan kerap berbaring lama juga perlu dicek D-dimer. Pasalnya, mereka termasuk orang yang memiliki risiko D-dimer tinggi.

"Nah orang-orang yang berisiko seperti ini adalah orang yang habis operasi dan tidur berbaring lama atau dia dalam kondisi cancer," lanjut dr Vito.

"Cancer membuat proses pembekuan darah darah ini juga lebih aktif sehingga dia lebih berisiko mempunyai D-dimer yang tinggi dan pembekuan darah," lanjutnya.

D-dimer tinggi perlu diatasi dengan menggunakan pengencer darah khusus. Pada pasien COVID-19, menurut dr Vito biasanya digunakan antikoagulan yang bisa melarutkan bekuan-bekuan akibat adanya peradangan karena COVID-19.

dr Vito menekankan jangan mempercayai informasi terkait banyak minum air putih bisa mengatasi D-dimer tinggi. Hal tersebut dipastikan keliru.



Simak Video "Orang yang Berisiko D-dimer Tinggi dan Cara Deteksinya"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)
eLife
×
Seks Anal dari Kacamata Medis
Seks Anal dari Kacamata Medis Selengkapnya