ADVERTISEMENT

Senin, 15 Mar 2021 10:30 WIB

Dua-duanya Sudah Masuk RI, Apa Sih Bedanya Mutasi N439K dan Corona B117?

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Folder of Coronavirus covid19 2019 nCoV outbreak Foto: Getty Images/iStockphoto/oonal
Jakarta -

Selain varian virus Corona B117, mutasi N439K belakangan jadi sorotan. Pasalnya, mutasi ini disebut-sebut lebih smart hingga bisa 'mengelabui' antibodi.

Menurut Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Prof Amin Subandrio, mutasi ini juga memiliki angka reproduksi lebih tinggi, dua kali lipat. Artinya, lebih cepat menular.

Meski begitu, baik mutasi N439K maupun varian Corona B117 belum memiliki bukti lebih lanjut bisa mempengaruhi efektivitas vaksin Corona yang sudah ada.

Sama-sama lebih mudah menular, apa sih bedanya mutasi N439K dan varian Corona B117?

1. Corona B117

Corona B117 merupakan salah satu varian mutan virus Corona yang pertama kali merebak di Inggris. Para peneliti dari NERVTAG menyebut Corona B117 memicu lonjakan kasus COVID-19 hingga rawat inap pasien Corona. Hal ini disimpulkan dari pengamatan wabah COVID-19 yang kembali 'mengganas' di Inggris akhir tahun lalu.

Namun, belum ada bukti atau data kuat yang menunjukkan sebab akibat dari Corona B117 ini. Begitu juga dengan efektivitas vaksin, beberapa vaksin bahkan telah diuji pada Corona B117 yang diyakini 40 hingga 70 persen lebih menular.

Adalah Pfizer dan Novavax yang terbukti mampu melawan varian Corona B117. Vaksin Corona Novavax menunjukkan efikasi 86 persen pada varian Corona B117.

B117 ini merupakan nama resmi varian virus Corona ini dalam galur filogenetik. Memiliki 23 mutasi, varian ini sudah ditemukan pada 6 kasus di Indonesia.

"B117 itu nama galur filogenetik yang ditetapkan virologist yang mengamati evolusi SARS-CoV-2," jelas pakar biologi molekuler Ahmad Rusdan Utomo kepada detikcom beberapa waktu lalu.

2. Mutasi N439K

Mutasi N439K sudah lebih dulu ditemukan dibandingkan varian Corona B117, yaitu Maret 2020 lalu, di Skotlandia. Mutasi ini jadi sorotan, pasalnya, mutasi N439K ini disebut resisten terhadap antibodi beberapa individu dalam sebuah penelitian jurnal Cell, 25 Januari lalu.

"Ini berarti virus memiliki banyak cara untuk mengubah domain imunodominan untuk menghindari kekebalan sekaligus mempertahankan kemampuan untuk menginfeksi dan menyebabkan penyakit," kata penulis penelitian sekaligus Direktur Senior Biologi Struktural di Vir Biotechnology Gyorgy Snell.

Hal senada yang menjadi kekhawatiran Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) adalah kemampuan mutasi N439K yang bisa 'mengelabui' antibodi.

"Varian N439K ini yang sudah lebih di 30 negara ternyata lebih 'smart' dari varian sebelumnya, karena ikatan terhadap reseptor ACE2 di sel manusia lebih kuat dan tidak dikenali oleh polyclonal antibody yang terbentuk dari imunitas orang yang pernah terinfeksi," jelas dr Daeng M Faqih, Ketua PB IDI.

Sementara itu, Prof Amin menyebut sudah ada 48 kasus N439K, dari lebih 500 sampel yang disequens, kebanyakan baru ditemukan di bulan ini. Mutasi N439K diyakini lebih mudah menular.

"Kalau dari tingkat keganasannya, prevalensinya, nggak berbeda dengan jenis lainnya, tetapi dia bisa mengikat pada sel manusia itu lebih kuat, dua kali lebih kuat, dampaknya bisa menginfeksi lebih mudah," jelasnya.



Simak Video "Waspadai Lonjakan Covid-19, Satgas Minta Masyarakat Perketat Prokes"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT