Kamis, 18 Mar 2021 22:00 WIB

Kena COVID-19, Remaja 19 Tahun Alami Nyeri pada Miss V hingga Sulit Pipis

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
woman have bladder or uti pain sitting on bed in bedroom after wake up feeling so illness,Healthcare concept Foto: Getty Images/iStockphoto/Jomkwan
Jakarta -

Remaja 19 tahun tiba-tiba mengeluhkan rasa nyeri luar biasa pada vaginanya, tepat dua hari setelah terpapar COVID-19. Akibat rasa nyeri yang tak tertahankan tersebut, ia sampai kesulitan buang air kecil.

Saat dibawa ke dokter, ditemukan luka genital sedalam 2 sentimeter di bagian labia vulvanya. Penuh dengan nanah kuning.

Kondisi yang kemudian disebut dokter 'vaginal ulcus' ini menjadi laporan pertama yang terjadi pada pasien Corona. Padahal, awal terinfeksi COVID-19, ia hanya mengeluhkan gejala Corona pada umumnya.

Termasuk batuk, demam, sakit tenggorokan, hingga ruam. Akibatnya, pasien Corona yang tak disebutkan namanya ini harus dirawat di RS dan diberi obat penghilang rasa sakit serta dexamethasone yang diyakini sebagai obat COVID-19 mengatasi sistem kekebalan tubuh.

Selama dua minggu, ia terus merasakan nyeri di bagian miss V. Terkadang, rasa nyeri seperti saat maag timbul menjadi gejala lain.

Mengapa hal ini bisa terjadi?

Dokter kandungan dan ginekolog Dr Jenny Christl dan timnya menerbitkan temuan mereka di Journal of Pediatric and Adolescent Gynecology. Mereka menyatakan, COVID-19 memang memengaruhi sistem multi-organ melalui aktivasi respons inflamasi sistemik.

Menurut mereka, hal ini juga terjadi pada sindrom virus lain seperti virus Epstein − Barr (EBV) dan cytomegalovirus (CMV). Kedua virus tersebut sebelumnya diketahui bisa menyebabkan 'ulkus vagina'.

"Sebagai kesimpulan, kasus ini menyoroti hubungan baru infeksi COVID-19," jelas mereka dalam studi.

"Sepengetahuan kami, ini adalah laporan kasus pertama yang menggambarkan ulkus aphthous vulva yang terkait dengan infeksi COVID-19 dan bergejala pada remaja."

Peneliti menyebut kondisi vulva pasien sangat rusak setelah banyak kulit terkelupas karena masalah tersebut. Kejadian ini juga memicu pertanyaan apakah ada penyebab lain selain infeksi COVID-19 seperti akibat hubungan seksual.

Namun, tes yang dilakukan peneliti mengungkapkan bahwa infeksi itu tidak mungkin ditularkan secara seksual. Petugas medis sempat bingung menyimpulkan luka tersebut akibat virus Corona, mereka mengakui belum memahami hubungan antara keduanya.

Melaporkan efek samping langka dalam jurnal medis, Dr Christl dan timnya mengungkapkan ulkus vagina telah disebabkan oleh virus di masa lalu.

Virus seperti COVID-19 diketahui memicu reaksi autoimun yang tidak biasa yang dapat menyebabkan masalah kesehatan utama. Laporan itu juga menyoroti bagaimana sariawan, ruam, dan penyakit lain biasa terjadi di antara pasien COVID-19.



Simak Video "Sukarelawan Terjun Langsung Jemput Jenazah COVID-19 di India"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/fds)