Minggu, 21 Mar 2021 10:26 WIB

Vaksin AstraZeneca Direstui, Epidemiolog: Manfaatnya Jauh Lebih Besar

Yudistira Imandiar - detikHealth
Ada Apa Dengan Vaksin Covid-19 AstraZeneca Sampai Ditunda di Banyak Negara? Foto: DW (News)
Jakarta -

Polemik mengenai vaksin COVID-19 AstraZeneca mengemuka, karena adanya penangguhan penggunaan vaksin ini di 15 negara Eropa terkait dugaan pembekuan darah pada penerimanya. Selain itu, masalah kehalalan juga sempat menghambat penggunaan vaksin ini di Indonesia.

Namun, setelah melalui sejumlah kajian, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengeluarkan izin penggunaan darurat (Emergency Use Authorization/EUA) vaksin COVID-19 AstraZeneca. Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga mengeluarkan fatwa vaksin AstraZeneca dapat digunakan dalam kondisi darurat.

Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia sekaligus epidemiolog Prof. dr. Hasbullah Thabrany menegaskan urgensi dari pemberian izin pada vaksin AstraZeneca adalah untuk menyelamatkan nyawa banyak orang. Ia menyebut kejadian pembekuan darah yang diindikasikan sebagai efek vaksin AstraZeneca jumlah kasusnya sangat kecil.

"Kejadian yang tidak diharapkan bisa saja terjadi. Yang perlu diperhatikan adalah seberapa besar manfaat keseluruhan untuk masyarakat. Tunggulah kata ahlinya seperti WHO terkait efektivitas dan keamanan vaksin. Jangan kita mengambil kesimpulan sendiri dan langsung menolak karena menolak vaksin efeknya bisa membahayakan orang lain," ungkap Hasbullah dikutip dalam keterangan tertulis, Minggu (21/3/2021).

Ia menekankan pemerintah sudah semestinya mengambil kebijakan yang mengedepankan kepentingan orang banyak dan tidak menjadikan perkara kecil sebagai pertimbangan dalam mengambil kebijakan.

"WHO mengatakan AstraZeneca bisa diteruskan. Manfaatnya jauh lebih besar. Kejadian itu juga belum terbukti efek dari vaksin," cetus Hasbullah.

Terkait terbatasnya waktu shelf life vaksin AstraZeneca, Hasbullah menyatakan hal itu tak perlu dikhawatirkan. Ia menerangkan, stok vaksin AstraZeneca sejumlah satu juta dosis akan habis dalam 3-4 hari dengan memperhitungkan kemampuan rata-rata vaksinasi 300-400 ribu dosis per hari.

Hasbullah juga mengingatkan masyarakat, vaksin bukan perisai utama untuk mencegah penularan COVID-19. Dia mengatakan meskipun sudah mendapatkan vaksin dua kali, protokol kesehatan tetap harus dijalankan untuk menghindari tertular atau menularkan virus ke orang lain.



Simak Video "Vaksin AstraZeneca Ditargetkan Tiba Lagi di Indonesia Mei 2021"
[Gambas:Video 20detik]
(akn/ega)