Selasa, 06 Apr 2021 15:10 WIB

Mutasi 'Eek' Masuk Indonesia, Ini Dampaknya pada Efikasi Vaksin COVID-19

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Vaksinasi massal untuk pelaku UMKM digelar di Ciputra Artpreneur Museum, Jakarta, Kamis (1/4/2021). Sebanyak 1.500 pelaku UMKM menerima vaksin COVID-19 dosis pertama. Varian 'Eek' atau mutasi E484K dikhawatirkan ganggu efikasi vaksin Corona. (Foto: Agung Pambudhy)
Jakarta -

Mutasi E484K sudah masuk Indonesia. Mutasi yang disebut varian Eek ini sudah masuk sejak Februari lalu, ditemukan dari sampel di salah satu RS Jakarta Barat.

Menurut dokter paru sekaligus Mantan Direktur WHO Asia Tenggara, Prof Tjandra Yoga Aditama, mutasi E484K ini bisa memperpendek masa kerja antibodi netralisasi di dalam tubuh. Akibatnya, orang tersebut menjadi lebih mudah terinfeksi ulang pasca sembuh dari COVID-19.

"Karena pengaruhnya terhadap antibodi, maka mungkin akan ada dampaknya pada efikasi vaksin. Kita masih akan tunggu hasil penelitian selanjutnya tentang bagaimana dampaknya terhadap efikasi vaksin," kata Prof Tjandra melalui pesan singkat yang diterima detikcom, Selasa (6/4/2021).

"Perlu diketahui bahwa kalau memang nanti mutasi E484K dan atau mutasi atau varian baru lainnya memang akan membuat vaksin menjadi tidak efektif, maka para pakar dan produsen vaksin akan dapat memodifikasi vaksin yang ada sehingga akan tetap efektif dalam pengendalian COVID-19," lanjutnya.

Agar mutasi 'Eek' atau E484K ini tidak menyebar lebih luas, Prof Tjandra mengatakan perlu adanya beberapa tindakan pencegahan. Berikut langkah-langkah pencegahan yang harus dilakukan sebagaimana dilakukan untuk mencegah penularan virus Corona pada umumnya:

  • Meningkatkan 3M (mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak).
  • Melakukan penelusuran kontak intensif pada keadaan khusus.
  • Mengawasi kedatangan dari luar negeri.
  • Meningkatkan jumlah pemeriksaan whole genome sequencing.


Simak Video "Mutasi 'Eek' Masuk Indonesia, Satgas: Tingkatkan Disiplin Prokes"
[Gambas:Video 20detik]
(sao/up)