Selasa, 06 Apr 2021 15:40 WIB

Lari Dulu 21 Km Tiap Mau Sarapan, Remaja Ini Nyaris Tewas Kecanduan Olahraga

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Runner athlete running on forest trail. woman fitness jogging workout wellness concept. Remaja 19 tahun nyaris tewas gegara kecanduan olahraga. (Foto ilustrasi: iStock)
Jakarta -

Seorang remaja perempuan berusia 19 tahun hampir meninggal karena kecanduan berolahraga. Ia selalu berlari half marathon atau sekitar 21 km tiap mau sarapan bahkan bersembunyi di toilet untuk jogging di tempat.

Hal ini berawal sejak remaja bernama Lisa Fouweather asal Doncaster, South Yorkshire, mengikuti kompetisi lari dan bergabung dengan Doncaster Athletics Clubs pada September 2016 lalu. Ia selalu berlari dengan harapan performanya bisa meningkat dan menjadi yang terbaik di klubnya.

Lisa pun bertekad untuk terus berlatih dengan mengikuti cara para profesional di Instagram dan melakukan diet ekstrem. Setiap hari, ia hanya mengkonsumsi buah dan sayur. Ia menghindari semua yang mengandung lemak serta gula seperti roti dan kentang, termasuk minuman.

"Aku takut mengkonsumsi 'kalori cair' dan akan membuang jus jeruk milikku ke luar jendela saat orang tuaku pergi," kata Lisa yang dikutip dari Daily Mail, Selasa (6/4/2021).

"Aku hanya akan makan buah, tujuh stroberi, atau jika aku sangat lapar hari itu aku mungkin makan pisang," lanjutnya.

Sampai akhirnya, di awal 2017 orang tua Lisa yaitu Joanna dan Roy Fouweather menyadari ada yang tidak beres pada anaknya. Mereka pun membawa Lisa ke rumah sakit dan dirujuk ke Layanan Kesehatan Mental Anak dan Remaja (CAHMS).

Lisa didiagnosis mengalami ortoreksia dan dilarang untuk berolahraga. Tetapi, Lisa mengancam akan bunuh diri jika tidak diperbolehkan untuk berolahraga, karena ia tidak bisa hidup tanpa olahraga.

Dikutip dari Healthline, ortoreksia atau orthorexia nervosa adalah kelainan makan yang melibatkan obsesi tidak sehat dengan makanan sehat.

"CAMHS mengatakan jika aku terus berolahraga, bisa berisiko mengalami serangan jantung atau lebih buruk," ujarnya.

Lisa pun tidak mengakui bahwa dirinya memiliki masalah pada jantungnya. Detak jantungnya turun menjadi 28 bpm (detak per menit) dan membuatnya berisiko mengalami kematian.

Untuk mengatasinya, Lisa harus menghabiskan waktunya selama tiga minggu di rumah sakit untuk menaikkan berat badannya kembali. Ia diharuskan menggunakan sandaran ranjang yang ketat dan kursi roda untuk pergi ke toilet.

Kemudian, Lisa dipindahkan ke klinik spesialis kelainan makan Riverdale Grange di Sheffield. Di sana ia harus menggunakan kursi roda dan menjalani terapi selama 7 bulan.

Hingga akhirnya, berat badannya bertambah menjadi 54 kilogram, meski belum mengalami siklus menstruasi. Lisa juga harus berhati-hati karena kepadatan tulangnya mulai menurun.



Simak Video "Kenapa Atlet Bisa Kena Serangan Jantung?"
[Gambas:Video 20detik]
(sao/up)