Jumat, 09 Apr 2021 16:22 WIB

Komnas KIPI Imbau Keluarga Tak Halangi Lansia untuk Divaksin

Yudistira Imandiar - detikHealth
Para Lansia menerima suntikan vaksin COVID-19 di Gedung Balai Besar Pelatihan Kesehatan, Kemenkes, Jakarta Selatan, Rabu (24/3). Begini ekspresi para Lansia saat disuntik. Foto: Ari Saputra
Jakarta -

Ketua Komnas PP KIPI Profesor Dr. dr. Hinky Hindra Irawan Satari, Sp. A(K), M. Trop Paed kembali menegaskan vaksinasi lansia merupakan sesuatu yang aman. Ia mengimbau para lansia maupun keluarga agar tidak ragu mengikuti vaksinasi.

Hinky mengemukakan pada beberapa kasus diketahui keluarga melarang lansia untuk mengikuti vaksinasi, karena termakan informasi tidak benar.

"Karena ternyata (keluarga) memperoleh informasi yang kurang tepat atau pihak yang tidak berwenang terkait imunisasi atau vaksinasi," ungkapHinky dikutip dalam keterangan tertulis, Jumat (9/4/2021).

Hinky yang berusia 66 tahun menyampaikan dirinya telah divaksinasi dua kali. Padahal, ia memiliki gangguan irama jantung, hipertensi, serta kolesterol dan asam urat nya sempat tinggi.

"Alhamdulillah sehat, saya sudah dua kali divaksinasi jadi jangan ragu-ragu," sebut Hinky.

Menurutnya, lansia yang memiliki komorbid a tetap bisa divaksin. Ia menerangkan KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi) dari vaksin COVID-19 bisa muncul, namun cenderung ringan dan dapat ditolerir.

"Namun manfaat vaksinasi jauh lebih besar maka sama-sama kita divaksin," pesan Hinky.

Komnas KIPI, kata Hinky, terus memantau, mengkaji, merekomendasikan apakah vaksin itu aman atau tidak bagi masyarakat. Komnas KIPI merekomendasikan vaksin yang telah teruji aman untuk digunakan dalam program vaksinasi nasional, dengan tetap memantau dan mengkaji setiap perkembangannya.

"Kalau ada perubahan kita buat rekomendasi baru," ujarHinky.

Ia menerangkan jika ada laporan terkait KIPI dari vaksinasi, ada dua hal yang dilakukan Komnas KIPI. Pertama, mengecek berapa lama ketika diberikan vaksin hingga ada gejala dan kedua, Komnas KIPI akan memeriksa apakah ada penyakit lain yang menyebabkan gejala dan bukan berasal dari vaksin.

"Kalau gejala lebih dua hari laporkan saja nanti gejala itu diinvestigasi, dianalisis, dan dikaji. Apapun keluhannya silakan lapor, kita justru mengharapkan laporan," cetus Hinky.



Simak Video "Izinkan Sinovac untuk Lansia, BPOM Merujuk Uji Klinis China-Brasil"
[Gambas:Video 20detik]
(ega/ega)