Sabtu, 10 Apr 2021 18:15 WIB

Terinfeksi COVID-19 Dua Kali Seperti Maia Estianty, Separah Apa Gejalanya?

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Maia Estianty saat ditemui di kawasan Kebon Jeruk. Maia Estianty ceritakan pengalamannya terinfeksi COVID-19 kedua kalinya. (Foto: Noel/detikFoto)
Jakarta -

Setelah terinfeksi COVID-19 pada Desember 2020 lalu, Maia Estianty mengaku sempat positif lagi untuk kedua kalinya atau reinfeksi. Dalam akun YouTube miliknya, MAIA ALELDUL TV, Maia terinfeksi lagi setelah memeluk seseorang yang ternyata positif COVID-19.

Setelah tahu dirinya positif lagi, ia langsung melakukan isolasi mandiri selama lima hari. Berbeda dengan yang pertama, kali ini Maia mengalami gejala COVID-19 yang tidak terlalu parah.

"Jadi agak sedikit tenggorokan gatal, meski sedikit, tapi itu ada gejala. Belum batuk sih aku, cuma gatal, tapi enggak gatal-gatal banget. Yang aku pikir biasa saja, tapi ternyata itu gejala dari COVID-19," katanya.

Selain Maia, siapa saja yang bisa mengalami reinfeksi COVID-19?

Dikutip dari The BMJ, Kepala Epidemiologi dan Genomik Mikroba di Otoritas Kesehatan Nasional Luksemburg, Joel Mossong, menjelaskan siapa saja yang mungkin bisa mengalami reinfeksi.

Berdasarkan pengalamannya, reinfeksi mungkin terjadi pada orang yang mengalami gejala ringan pada infeksi pertama. Hal ini bisa terjadi karena mereka tidak mengembangkan respons kekebalan atau antibodi saat mengalami infeksi sebelumnya.

"Hal ini sama seperti yang berlaku untuk mereka yang mengalami imunosupresi dan tidak akan meningkatkan respons imun terhadap infeksi pertama," jelasnya.

Seberapa parah gejala yang mungkin dialami?

Sampai saat ini, sebagian besar kasus infeksi ulang atau reinfeksi SARS-CoV-2 yang telah dilaporkan lebih ringan dari infeksi yang pertama. Tetapi, ada beberapa kasus yang menjadi semakin berbahaya hingga menyebabkan pasien tersebut meninggal dunia.

"Hampir pasti, kekebalan dari infeksi ringan tidak bertahan lama. Namun, secara seimbang, sebagian besar infeksi kedua akan menjadi jauh lebih ringan karena tingkat memori kekebalan dan mediasi sel," kata profesor kedokteran di University of East Anglia, Paul Hunter.

Selaras dengan itu, ahli onkologi dan profesor di Mayo Clinic S Vincent Rajkumar mengatakan meski infeksi ulang mungkin saja terjadi, itu tidak akan lebih parah dari infeksi sebelumnya. Gejala yang muncul mungkin akan sangat ringan, sehingga orang yang mengalaminya tidak sadar kalau dirinya terinfeksi COVID-19 kedua kali.

"Anda mungkin terinfeksi kembali dan gejalanya mungkin sangat ringan, sehingga Anda tidak mengetahuinya," ujar Rajkumar menambahkan semua orang pada akhirnya tetap harus memakai masker, seperti dikutip dari National Geographic, Sabtu (10/4/2021).



Simak Video "Studi: Hanya 0,65% Pasien COVID-19 yang Alami Reinfeksi"
[Gambas:Video 20detik]
(sao/fds)