Rabu, 14 Apr 2021 18:30 WIB

Nekat Lanjut Tanpa Restu BPOM, Uji Klinis Vaksin Nusantara Bakal Jadi Apa?

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto (kanan) berbincang dengan anggota Komisi IX DPR sebelum mengikuti Rapat Dengar Pandapat di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Kamis (27/8/2020). RDP tersebut membahas efektivitas pengorganisasian dan penganggaran dalam penanganan COVID-19, termasuk perkembangan tentang uji vaksin untuk COVID-19. ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari/nz Terawan Agus Putranto. (Foto: ANTARAFOTO/PUSPA PERWITASARI)
Jakarta -

Para peneliti vaksin Nusantara tetap melanjutkan uji klinis ke Fase II melibatkan sejumlah tokoh. Per Rabu (14/4/2021) beberapa anggota Komisi IX DPR RI, Dewan Pembina Partai Golkar Aburizal Bakrie (Ical) hingga Mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo ikut menjalani proses pembuatan vaksin Nusantara di RSPAD Gatot Soebroto.

Pakar biologi molekuler sekaligus vaksinolog Ines Atmosukarto menyebut vaksin Nusantara tidak mungkin bisa dikomersilkan lantaran tak sesuai dengan aturan otoritas kesehatan, dalam hal ini, BPOM. Begitu pula dengan proses uji klinis yang akan terhambat jika tak kunjung ada perbaikan dari para peneliti.

"Selama kita tidak mendapat semua persetujuan sesuai dengan hukum setempat yang berlaku maka kita tidak bisa melanjutkan uji klinis, apalagi dikomersilkan. Karena untuk dapat mengkomersilkan sesuatu harus mendapat izin edar dan untuk obat izin tersebut datang dari BPOM," jelas Ines saat dihubungi detikcom Rabu (14/4/2021).

Hal serupa juga diutarakan juru bicara vaksinasi COVID-19 Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Lucia Rizka Andalusia. Menurutnya, jika uji klinis vaksin Nusantara tetap berlanjut tanpa persetujuan BPOM, izin edar pun tak bisa dikeluarkan.

"Konsekuensinya kalau sebagai penelitian saja tidak apa-apa, asal tidak menjadi produk yang akan dimintakan izin edar," kata Rizka sembari menegaskan belum ada izin untuk uji fase II vaksin Nusantara, dikutip dari CNNIndonesia, Rabu (14/4/2021).

Sementara itu, Ines menyayangkan para peneliti vaksin Nusantara tak memperbaiki good clinical practice hingga good manufacturing practice. Pasalnya, setiap uji vaksin COVID-19 harus sesuai dengan kaidah ilmiah.

"Agar data itu valid sehingga kita tidak mengambil kesimpulan yang salah. Hal ini sangat penting mengingat inovasi obat dan vaksin menyangkut nyawa manusia," pungkasnya.



Simak Video "Vaksin COVID-19 Karya RI Pakai Sel Dendritik, Ini Cara Kerjanya"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)