Senin, 19 Apr 2021 09:51 WIB

IAKMI: Herd Immunity Sulit Tercapai Lewat Vaksinasi Nusantara, Ini Alasannya

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Scientists are done research on vaccine in laboratory with test tubes on Covid19 Coronavirus type for discover vaccine. Ilustrasi vaksin Nusantara. (Foto: Getty Images/iStockphoto/chayakorn lotongkum)
Jakarta -

Pengurus Pusat Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat (IAKMI) Hermawan Saputra menjelaskan vaksinasi Nusantara tampaknya sulit mencapai herd immunity. Pasalnya, pengembangan vaksin berbasis sel dendritik ini disebut Hermawan fokus pada individu atau masing-masing orang yang akan divaksinasi.

"Pertama vaksin ini sangat personalized, artinya intervensi personal akan berbeda nanti dengan makna vaksin yang kita gunakan saat ini yang memang akan bisa digeneralisir," kata Hermawan dalam webinar 'Siapa Suka Vaksin Nusantara?' Minggu (18/4/2021).

Hal ini menurutnya bertolak belakang dengan tujuan vaksinasi COVID-19 selama ini. Kata dia, mekanisme vaksin Nusantara seperti mustahil memicu herd immunity lantaran sel dendritik didapatkan pada perorangan.

Ia juga menyoal perihal pengembangan vaksin dendritik yang kemungkinan harus memakan biaya besar karena terdapat semacam uji kultur. Padahal, Hermawan menilai vaksin harus 'affordable' dan mampu dijangkau semua pihak.

"Kalau kita bayangkan kita ambil contoh program vaksinasi untuk menyasar 181,5 juta orang, anggaplah. Kan goal daripada vaksinasi ini kan untuk menimbulkan herd immunity, jadi bayangkan secara paradigma herd immunity ini kalau intervensinya hanya intervensi per orang," jelasnya.

"Kemudian nanti vaksin untuk orang tertentu, tidak bisa digeneralisir berbagai kalangan, maka sulit kita mewujudkan herd immunity yang memang misi daripada vaksinasi itu adalah imunitas kelompok, yang pada akhirnya ini adalah pendekatan nasional," lanjut Hermawan.

Persoalan herd immunity sebelumnya sempat dipertanyakan Guru Besar Unair Prof Chairul A Nidom. Ia meragukan karakter virus Corona COVID-19 akan cocok dilawan oleh strategi herd immunity, berdasarkan contoh kasus lonjakan Corona di sejumlah negara meski sudah vaksinasi.

Ia mengklaim, ada beberapa orang yang sudah divaksinasi sama sekali tak memicu antibodi. Hal ini yang kemudian dikhawatirkan 'menggagalkan' strategi herd immunity.

"Herd immunity belum tentu cocok diterapkan untuk covid, lebih baik menggunakan mask immunity, bahwa imunitas yang ditimbulkan karena menggunakan masker, prokes, istilah kasarnya penduduk Indonesia itu harus dipukuli dulu supaya disiplin memakai masker," tuturnya kepada detikcom beberapa waktu lalu.

"Kalau seluruh indonesia sudah memakai masker, maka itu virus mati di luar tubuh, tapi kalau vaksin itu dibiarkan masuk kemudian digempur di dalam tubuh, akhirnya apa jadinya? Iya virus Eek, B117, nah macam-macam karena dia harus melakukan perlawanan di dalam tubuh, jadi coba kalau saya tinjau dulu teori herd immunity," lanjutnya.



Simak Video "Awal Mula Vaksin Nusantara Besutan Dr Terawan"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)