Senin, 03 Mei 2021 13:55 WIB

4 Fakta Kalium Sianida, Racun 'Sate Takjil' yang Tewaskan Anak Ojol di Bantul

Ardela Nabila - detikHealth
Jakarta -

Satreskrim Polres Bantul berhasil mengamankan Nani Aprilliani Nurjaman (25), pelaku pengirim takjil beracun, yang beberapa saat lalu menewaskan seorang bocah di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Menurut polisi, racun yang terkandung pada bumbu sate tersebut merupakan jenis racun kalium sianida padat.

"Racunnya berupa kalium sianida atau KCN," ujar Ditreskrimum Polda DIY Kombes Burkan Rudy Satria dalam jumpa pers di Mapolres Bantul, Jalan Jenderal Sudirman, Kapanewon Bantul, Senin (3/5/2021).

Jenis sianida yang ditaburkan oleh tersangka ke bumbu sate yang disantap oleh korban, kata Burkan, merupakan sianida jenis padat.

"Sianida ditaburkan ke bumbunya itu (sate), jadi sianidanya yang (jenis) padat," katanya.

Mengutip Central Disease Control and Prevention (CDC), sianida merupakan jenis bahan kimia mematikan yang terdiri dari berbagai bentuk, seperti hidrogen sianida (HCN), sianogen klorida (CNCl), natrium sianida (NaCN), dan kalium sianida (KCN).

Berikut 4 fakta racun sianida, racun yang digunakan oleh tersangka kasus pengirim takjil maut di Bantul.

1. Di mana sianida ditemukan dan penggunaannya

Sianida berasal dari zat alami yang dilepaskan oleh beberapa makanan dan tumbuhan, seperti singkong, kacang lima, dan almond. Biji sejumlah buah-buahan, yaitu apel, aprikot, dan persik, mengandung bahan kimia yang juga memiliki potensi untuk dimetabolisme menjadi sianida.

Bahan kimia ini juga ditemukan pada asap rokok dan asap hasil pembakaran dari bahan sintetis seperti plastik. Di bidang manufaktur, sianida digunakan untuk membuat kertas, tekstil, dan plastik.

2. Bentuk-bentuk dan bahaya racun sianida

Racun sianida dalam bentuk gas merupakan jenis paling berbahaya, terutama jika di ruangan tertutup tanpa sirkulasi udara. Jika terhirup oleh tubuh, jenis racun yang satu ini bisa mencegah sel dalam tubuh untuk menggunakan oksigen. Saat ini terjadi, maka sel bisa mati.

Sianida juga berbahaya bagi jantung dan otak, dibandingkan bagi organ lainnya, lantaran kedua organ tersebut membutuhkan lebih banyak oksigen daripada organ lainnya.

Satreskrim Polres Bantul telah menangkap wanita pengirim takjil beracun yang menewaskan bocah yang memakan takjil tersebut. Begini tampangnya.Satreskrim Polres Bantul telah menangkap wanita pengirim takjil beracun yang menewaskan bocah yang memakan takjil tersebut. Begini tampangnya. Foto: PIUS ERLANGGA

3. Gejala yang ditimbulkan

Seseorang yang terpapar racun sianida dengan cara menghirupnya, terpapar melalui kulit, atau karena mengonsumsi makanan yang mengandung sianida, akan langsung mengalami sejumlah gejala hanya dalam beberapa menit usai terpapar, yaitu:

  • Pusing
  • Sakit kepala
  • Mual dan muntah
  • Lemas
  • Napas dan detak jantung menjadi lebih cepat

Jika terpapar dalam jumlah besar, maka sianida bisa memberikan efek terhadap kesehatan, seperti:

  • Tekanan darah rendah
  • Kejang
  • Penurunan kesadaran
  • Cedera paru-paru
  • Kegagalan pernapasan yang menyebabkan kematian
  • Denyut jantung melambat.

Seseorang yang selamat setelah keracunan sianida berisiko mengalami kerusakan jantung, otak, dan saraf.

4. Pengobatan jika terpapar

Keracunan sianida bisa diobati dengan penawar khusus dan perawatan medis yang bisa dilakukan di rumah sakit. Penangkal racun sianida, termasuk kalium sianida, akan efektif apabila diberikan secepat mungkin setelah terpapar. Jika menghadapi kasus keracunan sianida, dokter harus langsung menanganinya tanpa menunggu hasil laboratorium.

(up/up)