Selasa, 11 Mei 2021 10:46 WIB

60 Persen Pemudik Positif, Corona RI Diperkirakan 10 X Lipat Angka Resmi

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Seorang pemudik yang menggunakan sepeda motor menyiapkan surat jalan saat terjebak kemacetan di posko penyekatan mudik Kedungwaringin, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Senin (10/5/2021). Polda Metro Jaya menambah jumlah petugas guna mengecek ribuan pemudik yang melintasi pos penyekatan perbatasan Bekasi -Karawang, Jawa Barat. ANTARA FOTO/Wahyu Putro A/aww. (Foto: ANTARA FOTO/WAHYU PUTRO A)
Jakarta -

Corona harian di Indonesia sebenarnya bisa 10 kali lipat lebih tinggi dari yang dilaporkan. Data tersebut menurut pemodelan pakar epidemiologi Universitas Griffith Australia Dicky Budiman.

Kata dia, level Corona di Indonesia sudah 'mengkhawatirkan'. Ditandai Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), berada di level community transmission, yang diyakini level terburuk status wabah COVID-19.

Serupa dengan India, Corona di Indonesia juga disebut Dicky memiliki banyak klaster COVID-19 yang tak terdeteksi. Tak heran, jika dilakukan tes secara acak, contohnya pada kasus pemudik, sekitar 2/3 dari yang diperiksa ternyata positif Corona.

Potensi untuk kemudian terjadi ledakan kasus Corona seperti di India sangat mungkin terjadi. Terlebih di tengah masuknya sejumlah variant of concern (VOC) dan mobilitas yang tak kunjung dibatasi.

"Karena kalau tes kita ditingkatkan ratusan ribu ketemu juga nggak usah heran sebetulnya karena memang sudah ada, hanya kita karena memang minim 3 T kita ini membuat sangat berbahaya," jelas Dicky kepada detikcom Selasa (11/5/2021).

Lantas apa solusinya?

"Sangat berbahaya dan riskan dan berisiko melakukan perjalanan pada situasi saat ini, atau mudik. Intinya batasi mobilitas," katanya.

"Kita dalam posisi sangat serius, karena bom waktu sudah dimana-mana, kita di level terburuk sudah hampir setahunan," sebutnya.

Pembatasan mobilitas, kerumunan, hingga perilaku masyarakat soal penerapan protokol kesehatan disebut Dicky jadi kunci utama menuntaskan pandemi Corona yang tak kunjung mereda, dibanding hanya bergantung pada vaksinasi COVID-19.

Lihat juga video 'Kesiapan RS Hadapi Potensi Lonjakan Corona Setelah Lebaran':

[Gambas:Video 20detik]



(naf/up)