Jumat, 14 Mei 2021 19:00 WIB

Singapura Lockdown, Lawan COVID-19 Tak Cukup Hanya dengan Herd Immunity

Achmad Reyhan Dwianto - detikHealth
Total kasus virus Corona di Singapura telah melampaui 13 ribu kasus. Dengan jumlah tersebut Singapura menjadi negara kasus Corona tertinggi di Asia Tenggara. Singapura akan memberlakukan lockdown. (Foto ilustrasi: Getty Images)
Jakarta -

Menghadapi lonjakan kasus COVID-19, Singapura akan memberlakukan 'lockdown' atau pembatasan ketat. Kebijakan ini mulai berlaku pada Minggu (16/5/2021) hingga pertengahan Juni 2021.

Menteri Kesehatan Singapura, Gan Kim Yong, mengatakan COVID-19 di negaranya tidak bisa dihadapi dengan hanya mengandalkan herd immunity atau kekebalan kelompok.

"Kami terus mendorong warga Singapura untuk divaksinasi... Namun penting untuk diingat bahwa kami tidak dapat mengandalkan herd immunity," ucap Gan, dikutip dari The Straits Times, Jumat (14/5/2021).

"Akan ada beberapa orang yang tak bisa divaksinasi, karena kondisi medis. Meski (vaksin Corona) dapat melindungi dari penyakit parah, itu tidak sepenuhnya menghentikan infeksi atau penularan," tambahnya.

Menurut Gan, vaksinasi COVID-19 bukanlah satu-satunya cara untuk melawan virus Corona. Oleh karena itu, kata Gan, herd immunity tak bisa menjadi jaminan Singapura bisa terbebas dari COVID-19.

"Vaksinasi harus dilihat sebagai salah satu dari banyak alat yang bisa kita gunakan... Tindakan seperti menjaga jarak tetap sangat penting dilakukan dan upaya pelacakan kontak (contact tracing) adalah bagian tak terpisahkan dari rangkaian alat yang kami gunakan untuk melindungi Singapura," jelasnya.



Simak Video "Piala Eropa Dijadikan Contoh Herd Immunity Berkat Vaksinasi Corona"
[Gambas:Video 20detik]
(ryh/up)