Senin, 17 Mei 2021 19:00 WIB

Duh! Studi Inggris Sebut Terapi Plasma Darah Corona Tak Efektif, Ini Alasannya

Achmad Reyhan Dwianto - detikHealth
PMI Kota Solo akan menyediakan plasma konvalesen untuk terapi penyembuhan pasien COVID-19. Foto: Agung Mardika
Jakarta -

Sebuah studi terbaru di Inggris menyebut terapi plasma darah untuk penyembuhan pasien Corona dinilai kurang efektif. Mengapa?

Dikutip dari jurnal The Lancet, studi yang dilakukan di 177 rumah sakit di Inggris ini melibatkan sebanyak 11.558 pasien Corona yang memenuhi syarat sebagai penerima terapi plasma darah. Kemudian, rentang waktu penelitiannya dimulai sejak 28 Mei 2020 sampai 15 Januari 2021.

Sejumlah pasien dibagi menjadi dua kelompok, ada yang menerima plasma darah dan juga yang tidak. Hasil menunjukkan, tak ada perbedaan signifikan soal angka risiko kematian pasien Corona dari pengamatan yang dilakukan selama 28 hari.

Dijelaskan, angka kematian pasien terapi plasma darah mencapai 1.399 orang, atau 24 persen dari 5.795 pasien. Sementara jumlah kematian pasien yang tidak menjalani terapi plasma darah adalah 1.408 orang, atau 24 persen dari 5.763 pasien.

"Rasio tingkat kematian selama 28 hari adalah serupa di semua sub kelompok pasien yang ditentukan sebelumnya, termasuk pada pasien tanpa antibodi SARS-CoV-2," tulis studi tersebut.

Penggunaan terapi plasma darah juga tidak berpengaruh secara signifikan pada proporsi pasien yang dipulangkan dari rumah sakit selama 28 hari. Artinya, terapi ini disebut tidak terlalu membantu dalam proses penyembuhan pasien.

Apabila dibandingkan, persentase tingkat kepulangan pasien Corona yang menerima terapi plasma darah mencapai 3.832 orang atau 66 persen. Sementara jumlah pasien sembuh yang tak menerima terapi plasma darah adalah 3.822 orang atau 66 persen.



Simak Video "Daftar Kontak Mobil Darurat untuk Evakuasi Pasien COVID-19"
[Gambas:Video 20detik]
(ryh/naf)