Kamis, 20 Mei 2021 17:55 WIB

Vaksinolog: Manfaat Vaksin AstraZeneca Lebih Besar dari Risikonya

Yudistira Imandiar - detikHealth
Australia Atur Ulang Program Vaksinasi Akibat Adanya Efek Samping Vaksin AstraZeneca Foto: ABC Australia
Jakarta -

Penggunaan salah satu batch vaksin COVID-19 dari AstraZeneca berkode CTMAV547 dihentikan sementara. Sementara itu, 39 batch vaksin AstraZeneca lainnya tetap berlanjut didistribusikan ke masyarakat.

Menurut Vaksinolog dr. Dirga Sakti Rambe, informasi terkait vaksin AstraZeneca berbahaya perlu diluruskan. Pasalnya, vaksin tersebut telah lolos uji dan mendapatkan Emergency Use Authorization (EUA) dari Badan POM.

"Vaksin AstraZeneca secara umum merupakan vaksin yang aman dan efektif. Vaksin AstraZeneca bersama Sinovac dan Shinoparm sebelumnya sudah mendapatkan Emergency Use Authorization (EUA) dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM). EUA ini merupakan kajian akademis yang bisa dipertanggungjawabkan. Oleh karena itu, vaksin apapun yang telah mendapatkan EUA dari Badan POM bisa dipastikan keamanan dan efektivitasnya," papar dr. Dirga dalam keterangan tertulis, Kamis (20/5/2021).

Selain itu, lanjut dr. Dirga, vaksin yang sudah memiliki izin penggunaan secara luas masih terus diawasi penggunaannya. Proses ini merupakan proses berkelanjutan yang mengedepankan prinsip kehati-hatian agar vaksin yang digunakan aman untuk masyarakat.

"Tentu proses evaluasi dan monitoring setelah mendapatkan EUA ini terus berjalan. Para ahli, Badan POM dan Kementerian Kesehatan terus mengawal peredaran dan penggunaan vaksin ini di masyarakat," jelasnya.

Terkait dengan beberapa Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) yang diduga ada hubungannya dengan vaksin Astrazeneca, dr. Dirga menegaskan reaksi pascavaksinasi adalah hal yang wajar. Sebab, tubuh perlu mengenali zat dari vaksin yang baru masuk.

"Ini menunjukkan bahwa vaksin bekerja karena vaksin memiliki zat antigen sehingga perlu proses pengenalan pada tubuh untuk membentuk antibodi. Secara keseluruhan, KIPI pada AstraZeneca masih bersifat ringan dan bisa ditangani," terang dr. Dirga.

Mengenai polemik kasus pembekuan darah diduga terkait vaksin AstraZeneca, dr. Dirga menyebut probabilitas kasus tersebut sangat kecil. Ia mengatakan pembekuan darah terkait vaksin AstraZeneca bisa diatasi.

"Sejauh ini yang kita ketahui kejadian thrombosis ini amat sangat kecil yakni hanya 10 kasus dari 1 juta orang yang menerima vaksin AstraZeneca. Kondisi ini pun masih bisa ditangani secara medis. Para ahli saat ini terus mempelajari karakteristik kondisi thrombosis ini, namun dibandingkan dengan trombosis akibat terinfeksi COVID-19, kejadian yang diakibatkan AstraZeneca sangat kecil. Kesimpulannya, vaksin AstraZeneca aman dan manfaatnya jauh lebih besar daripada risikonya," cetus dr. Dirga.

Indonesia, kata dia, bukan satu-satunya negara yang menggunakan AstraZeneca. Banyak negara di Eropa dan Asia yang sudah menggunakan AstraZeneca.

"Salah satu laporan menunjukkan bahwa setelah dosis pertama efektivitasnya sebesar 65% mampu mencegah penularan dan efektivitasnya untuk mencegah COVID-19 yang bergejala hingga 72%," ulas dr. Dirga.



Simak Video "Berlin Tangguhkan Vaksin AstraZeneca Bagi Usia di Bawah 60 Tahun"
[Gambas:Video 20detik]
(akd/up)