Senin, 24 Mei 2021 12:38 WIB

Kenapa 42 Nakes Kontak Erat ABK India Masih Bisa Terinfeksi Corona?

Firdaus Anwar - detikHealth
Coronavirus. COVID-19. Copy space. 3D Render Foto: Getty Images/BlackJack3D
Jakarta -

Sebanyak 42 tenaga kesehatan (nakes) di Cilacap, Jawa Tengah, terkonfirmasi positif Corona. Kepala Dinas Kesehatan Jawa Tengah (Kadinkes Jateng) Yulianto menjelaskan ini berkaitan dengan pengembangan kasus 13 anak buah kapal (ABK) dari India yang terinfeksi varian Corona B1617.2.

"Kapal ini mengangkut gula rafinasi asal India ke Cilacap, Jateng, yang miliknya dari India. Dan ini secara periodik ini melakukan pengiriman masuk bahan gula rafinasi dari India," tutur Yulianto dalam konferensi pers Minggu (23/5/2021).

"Setelah itu kita melakukan tracing terhadap nakes-nakes yang kontak dengan ABK tersebut. Kita tenggarai ada 179 nakes yang kontak dengan ABK dan ada 42 yang konfirmasi positif Corona," lanjutnya.

Berkaitan hal tersebut, sebagian orang penasaran mengapa nakes yang seharusnya memiliki alat pelindung diri (APD) lengkap dan sudah divaksinasi masih bisa terinfeksi.

Ahli penyakit paru-paru sekaligus guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Profesor Tjandra Yoga Aditama, mengatakan positifnya nakes di Cilacap bisa karena beberapa faktor.

Pertama bisa jadi ini berkaitan dengan karakteristik varian Corona B1617 yang bersifat mudah menular.

"Ini varian baru B1617.2 yang merupakan VoC (variant of concern) WHO dan salah satu karakteristiknya memang mudah menular. Akan baik kalau nakes yang positif dan juga keluarganya dicek juga apakah memang mereka tertular varian B1617.2, kalau iya maka makin memperkuat," ungkap Prof Tjandra pada detikcom, Senin (24/5/2021).

Penjelasan berikutnya tidak pernah ada jaminan bahwa vaksin dan APD bisa 100 persen mencegah infeksi. Hal yang perlu diketahui adalah bahwa risiko infeksi tersebut bisa dibuat seminimal mungkin dengan upaya pencegahan.

"Tentang vaksin kan memang kita ketahui bahwa masih mungkin tertular tetapi tidak berat. Apalagi ini varian baru yang muncul sesudah vaksin diproduksi, jadi masih kita tunggu data efikasi terakhirnya," pungkas Prof Tjandra yang menyampaikan semua orang harus waspada terhadap varian baru Corona.



Simak Video " Asal-usul Penyebutan Varian COVID-19 'Delta Plus'"
[Gambas:Video 20detik]
(fds/kna)