Selasa, 25 Mei 2021 04:54 WIB

Round Up

Penjelasan BPOM RI Soal Obat Cina COVID-19 yang Dilarang Beredar

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
A woman opens her mouth for lots of colorful pills on a spoon. Ilustrasi obat (Foto: iStock)
Jakarta -

Beberapa waktu lalu, beredar kabar obat Cina COVID-19 bernama Lianhua Qingwen Capsules (LQC) ditarik rekomendasinya oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Faktanya, tidak semua produk LQC disetop atau dicabut izin edarnya oleh BPOM.

Faktanya, hanya jenis LQC Donasi yang sempat diterbitkan BNPB atas rekomendasi BPOM, lewat Sistem Layanan Perizinan Tanggap Darurat, Aplikasi Indonesia National Single Window (INSW), yang disetop.

Alasan LQC Donasi disetop BPOM

Dari hasil kajian, LQC Donasi mengandung ephedra yaitu bahan yang dilarang untuk digunakan dalam obat-obatan tradisional. Sebab, bisa berpotensi memicu masalah pada jantung dan sistem saraf pusat.

"LQC Donasi (Tanpa Izin Edar Badan POM) hanya digunakan untuk mengobati gejala simptomatik, seperti mempercepat hilangnya demam dan gejala simptomatik lainnya. Berdasarkan hasil studi, LQC Donasi diketahui tidak menahan laju keparahan (severity), tidak menurunkan angka kematian, serta tidak mempercepat konversi swab test menjadi negatif," jelas BPOM dalam rilis yang diterima detikcom, Senin (24/5/2021).

"Salah satu komposisi dari LQC Donasi (Tanpa Izin Edar Badan POM) adalah Ephedra. Ephedra merupakan bahan yang dilarang digunakan dalam obat tradisional (negative list) berdasarkan Peraturan Kepala Badan POM Nomor: HK.00.05.41.1384 Tahun 2005 tentang Kriteria dan Tata Laksana Pendaftaran Obat Tradisional, Obat Herbal Terstandar, dan Fitofarmaka karena dapat menimbulkan efek yang berbahaya pada sistem kardiovaskular dan sistem saraf pusat," lanjutnya.

Adapun obat Cina COVID-19 jenis LQC yang terdaftar dan disetujui BPOM, yang jelas berbeda kandungannya dengan LQC Donasi. Obat ini terbukti tidak mengandung ephedra dan dengan pertimbangan bisa membantu meredakan panas dalam, tenggorokan kering, dan meredakan batuk.

Untuk mengkonsumsinya, obat ini bisa digunakan sehari tiga kali empat kapsul, sesudah makan dan bisa digunakan tanpa resep dokter. Namun, BPOM tetap mengingatkan agar masyarakat tetap berhati-hati.

"Selalu lakukan Cek KLIK. Pastikan kemasan dalam kondisi baik, baca seluruh informasi pada label produk, pastikan produk yang akan dibeli dan digunakan mempunyai Izin Edar dari BPOM dan pastikan tidak melewati masa kedaluwarsa," pungkasnya.



Simak Video "Penjelasan BPOM Terkait Penarikan 'Obat Cina COVID-19' "
[Gambas:Video 20detik]
(sao/up)