Jumat, 28 Mei 2021 05:57 WIB

Viral Bekas Vaksin Bermagnet, Microchip atau Memang Keringatnya Lengket?

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Jakarta -

Video-video tentang bekas vaksin bermagnet tengah viral di berbagai platform media sosial. Disertai narasi menyesatkan bahwa vaksin COVID-19 yang disuntikkan mengandung microchip bermagnet.

Satgas Penanganan COVID-19 dalam salah satu unggahan memastikan video tersebut hoax. Disebutkan, para ahli telah mengatakan bahwa reaksi magnetis sebagai efek samping vaksin sama sekali tidak berdasar.

Ada beberapa alasan untuk mempercayai bahwa 'bekas vaksin bermagnet' hanyalah hoax. Berikut di antaranya:

1. Mustahil memasukkan chip magnetik

Dikutip dari Covid19.go.id, peneliti biologi seluler Dr Thomas Hope dari Northwestern University menjelaskan bahwa vaksin COVID-19 pada dasarnya terdiri dari protein dan lipid, garam, air, dan bahan kimia untuk menjaga pH. Tidak ada satupun bahan tersebut yang bereaksi dengan magnet.

Sementara itu, ahli fisika dari High Magnetic Field Laboratory Amerika Serikat Eric Palm menyebut ukuran jarum untuk menyuntikkan vaksin sangat kecil. Kalaupun ada kandungan magnetik, kadarnya akan terlalu rendah untuk bisa menarik logam di permukaan kulit.

2. Lebih mungkin efek keringat

Dikutip dari Livescience, peneliti kulit tokek Elmar Kroner dari Jerman mengatakan bahwa kulit yang banyak berkeringat cenderung lengket. Keringat membuat kulit kurang elastis, dan elastisitas mempengaruhi kelengketan.

"Keringat punya fungsi krusial. Makin basah kulit, kandungan mekanisnya berubah. Kulit jadi makin lunak, dan ini mengurangi energi yang disimpan secara elastis, dan lagi-lagi membuatnya makin lengket," kata Kroner.

3. Atau pakai trik tertentu

Sebenarnya tidak perlu trik apapun. Semasa kecil, banyak orang bermain-main dengan menempelkan koin uang logam ke jidat, dan akan menempel ketika kulitnya berkeringat. Kalaupun keringat kurang lengket, seseorang bisa saja memanfaatkan bekas tempelan selotip untuk membuatnya lebih rekat.

Distrik di Thailand tawarkan hadiah sapi untuk warga yang mau divaksin COVID-19. Hal itu dilakukan guna dorong program vaksinasi nasional di Negeri Gajah Putih.Rumot vaksin COVID-19 mengandung microchip banyak digunakan untuk menakut-nakuti agar tidak mau vaksin. Foto: AP Photo/Sakchai Lalit

4. Sebagian cuma lelucon

Emily, salah seorang pembuat video 'bekas vaksin bermagnet' dalam sebuah tayangan BBC mengaku membuat video 'magnetic challenge' sebagai lelucon semata. Ia terlebih dahulu menjilat magnet sebelum menempelkannya ke lengan bekas suntikan vaksin. Ia tak menyangka videonya diunggah ke forum-forum antivaksin, lalu dipakai untuk menakut-nakuti.

5. Coba cara ini untuk memastikan

Jauh sebelum ada vaksin COVID-19, cerita tentang 'manusia magnet' sebenarnya sudah banyak bertebaran. Salah satu yang fenomenal adalah bocah Serbia bernama Bodgan, yang kulitnya bisa menahan sendok dan peralatan logam lainnya.

Namun detail dalam sebuah video mengungkap bahwa yang dialami Bodgan bukanlah kulit bermagnet. Ketika ia menempelkan remote control dan ternyata lengket di kulitnya, maka bisa dipastikan bahwa hal itu bukan efek magnet. Remote kan dari plastik?

Benjamin Radford, seorang editor majalah Skeptical Inquirer, menawarkan cara lain untuk membuktikan ada tidaknya efek magnetik yakni dengan menempelkan kompas. Jika benar-benar menempel karena efek magnetik, maka jarum kompas tidak lagi menunjuk arah utara-selatan melainkan ke arah medan magnet terdekat.

Tapi jika tetap menunjuk arah utara-selatan, dipastikan 'bekas vaksin bermagnet' itu sebenarnya cuma efek keringat yang lengket.

(up/up)