Sabtu, 29 Mei 2021 07:01 WIB

Dugaan COVID-19 Bocor dari Lab Wuhan Mencuat, WHO Ungkit Hasil Investigasi

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Jakarta -

Teori asal usul Corona dari laboratorium Wuhan, China, kembali heboh jadi perbincangan. Pakar Amerika Serikat (AS) menduga kuat SARS CoV-2 (COVID-19) 'bocor' dari lab Wuhan.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menilai proses pencarian asal usul Corona kini 'diracuni politik'. Pernyataan tersebut keluar usai beberapa hari Presiden AS Joe Biden mendesak para peneliti di negaranya ikut menelusuri asal-usul COVID-19.

"Kami ingin semua orang di luar sana untuk memisahkan, masalah politik ini dari sains. Seluruh proses ini diracuni oleh politik," kata pakar WHO Mike Ryan kepada wartawan, dikutip dari Reuters.

Tim investigasi yang dipimpin WHO setidaknya menghabiskan waktu empat pekan di Wuhan bersama para peneliti China, menyimpulkan beberapa poin soal asal usul Corona. Satu hal yang paling disoroti ialah, virus Corona kemungkinan besar ditularkan dari kelelawar ke manusia melalui hewan lain.

Hewan lain tersebut, yang hingga kini belum berhasil diidentifikasi WHO. Bagaimana dengan teori lab Wuhan jadi asal usul Corona?

Menurut hasil penelusuran beberapa waktu lalu, laboratorium Wuhan ditegaskan WHO bukan menjadi sumber pandemi COVID-19, ada banyak kriteria atau jalur penularan Corona yang tak mungkin berawal dari laboratorium Wuhan.

Tetapi, banyak politisi dan sejumlah ilmuwan tidak puas dengan hasil investigasi WHO. Termasuk Biden, pada hari Rabu kemarin, langsung memerintahkan para peneliti untuk menemukan jawaban atas asal-usul virus tersebut, termasuk membuktikan teori kemungkinan terjadinya 'kecelakaan' laboratorium di China.

Amerika Serikat pada Kamis meminta WHO untuk melakukan penyelidikan kedua asal usul Corona. "Setiap negara dan setiap entitas bebas untuk meyakini teori asal mereka sendiri, ini adalah dunia yang bebas," kata Ryan.

"WHO adalah organisasi negara anggota dan kami berusaha untuk bekerja dengan semua negara anggota kami untuk mencari jawaban secara kolektif," tutur Maria Van Kerkhove, pimpinan teknis WHO untuk COVID-19, menambahkan bahwa masalah tersebut memerlukan banyak misi dan akan memakan waktu.

(naf/up)