Sabtu, 29 Mei 2021 18:01 WIB

Terpopuler Sepekan: Ini Alasan COVID-19 Malaysia Disebut Lebih Parah dari India

Achmad Reyhan Dwianto - detikHealth
Police officers check vehicles at a roadblock to ensure that people abide by a movement control order on the outskirts of Kuala Lumpur, Malaysia, Wednesday, Oct. 14, 2020. Malaysia will restrict movements in its biggest city Kuala Lumpur, neighboring Selangor state and the administrative capital of Putrajaya from Wednesday to curb a sharp rise in coronavirus cases. (AP Photo/Vincent Thian) COVID-19 di Malaysia. (Foto: AP/Vincent Thian)
Jakarta -

Malaysia menjadi salah satu negara yang tengah menghadapi lonjakan COVID-19. Bagaimana tidak? Negara itu secara lima hari berturut-turut mencatatkan rekor penambahan kasus Corona, dari 25-29 Mei 2021 dengan jumlah kasus di atas 7.000-an per hari.

Beberapa hari kemarin, perhitungan Our World in Data menunjukkan bahwa kasus harian Corona di Malaysia meningkat pesat dan telah melampaui tren di India ketika kritis.

Dikutip dari CNBC Internasional, secara umum angka penambahan kasus Corona di India memang jauh lebih besar dibandingkan Malaysia. Namun, jika dihitung secara kasus harian per satu juta penduduk dalam kurun waktu sepekan terakhir, COVID-19 di Malaysia telah melampaui India.

Berdasarkan data statistik terbaru pada Selasa (25/5/2021), Malaysia mencatat 205,1 kasus per satu juta penduduk dalam satu pekan. Sedangkan India hanya 150,4 kasus per satu juta penduduk.

Hal ini juga perlu dilihat dari populasi Malaysia yang jauh lebih sedikit dibandingkan India. Malaysia memiliki sekitar 32 juta penduduk, sementara India 1,4 miliar.

Diketahui, ini bukanlah pertama kalinya COVID-19 di Malaysia mengalahkan India. Berdasarkan perhitungan Our World in Data, kasus harian Corona di Malaysia per satu juta penduduk juga pernah lebih tinggi daripada India pada 15 November 2020 dan 27 Maret 2021.

Malaysia lockdown

Antisipasi lonjakan COVID-19 yang lebih parah, pemerintah Malaysia memutuskan untuk melakukan lockdown nasional selama dua pekan. Kebijakan ini akan mulai berlaku pada 1-14 Juni 2021, hanya sektor ekonomi dan jasa penting saja yang diizinkan untuk beroperasi.

"Pemerintah akan segera mengumumkan paket bantuan bagi mereka yang terkena dampak pembatasan baru," menurut pernyataan dari Kantor Perdana Menteri, dikutip dari Bloomberg.



Simak Video "Malaysia Konfirmasi Kasus Varian Omicron, Masuk Sebelum Afrika"
[Gambas:Video 20detik]
(ryh/naf)