Rabu, 09 Jun 2021 18:37 WIB

Jadi Korban Pelecehan Seksual, Apa yang Harus Dilakukan? Ini Saran Psikolog

Vidya Pinandhita - detikHealth
Teenage grl sitting on a staircase outside feeling depressed Foto: iStock
Jakarta -

Nama Gofar Hilman terseret dalam kasus pelecehan seksual yang dituduhkan oleh akun Twitter @quweenjojo pada Selasa (8/6/2021). Melalui sebuah utas (thread), pemilik akun menyebut Gofar telah melakukan pelecehan seksual dalam sebuah acara musik pada 2019.

Menanggapi tuduhan tersebut, Gofar meminta maaf pernah merangkul pemilik akun @quweenjojo dalam acara tersebut. Namun ia bersikeras, dirinya tak pernah melakukan tindakan pelecehan seksual.

Ini bukan kali pertama kasus pelecehan seksual di ruang publik menghebohkan media sosial. Tak bisa dipungkiri, kasus pelecehan seksual berpotensi meninggalkan sederet trauma yang membekas pada korban.

Apa yang harus dilakukan jika jadi korban?

Psikolog klinis Anastasia Sari Dewi, founder pusat konsultasi Anastasia and Associate, menjabarkan apa yang bisa dilakukan seseorang jika mengalami pelecehan seksual.

"Make sure tidak menggeneralisasi perilaku yang diterima sebagai bentuk entah kesalahan diri sendiri, harga diri, dan nilai diri. Berhenti untuk tidak over generalisir pengalaman yang diterima dengan konsep diri kalian (korban)," ujarnya pada detikcom, Rabu (9/6/2021).

Menurut Sari, pengalaman dilecehkan berpotensi besar membekaskan luka psikis pada korban. Agar tak terjebak pada sikap menyalahkan diri sendiri, Sari menyarankan penyintas untuk berbicara pada orang terpercaya jika merasa memerlukan bantuan.

Pemulihan trauma dari pengalaman pelecehan memang bukan hal sepele. Penyintas kerap membutuhkan pertolongan pihak lain untuk membantu melepaskan beban emosinya.

"Coba cari orang yang Anda percaya sesegra mungkin untuk membantu dalam mengelurkan emosi yang mungkin tertahan atau tidak bisa Anda luapkan pada pelaku karena 1 dan lain hal," ujar Sari.

"Berikan ruang dan waktu untuk semua emosi, kekecewaan, kemarahan, kekagetan Anda semua dikeluarkan. Orang ini mungkin akan memberikan penguatan atau pandangan, tapi sifatnya bukan Anda harus terima. Anda bisa mengeluarkan kagetnya Anda, marahnya Anda," lanjutnya.

Sari menekankan, cara ini memang tak selalu bisa diterapkan pada seluruh penyintas pelecehan seksual. Setiap penyintas bisa memiliki kondisi, pengalaman, dan pilihan berbeda, sehingga butuh treatment yang berbeda pula. Namun menurutnya yang terpenting, penyintas layak lepas dari perasaan menyalahkan diri sendiri.



Simak Video "Hati-hati! Jangan Asal Curhat soal 'Ghosting' di Medsos"
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/up)