Jumat, 11 Jun 2021 11:40 WIB

Lewat COVAX, RI Dorong Kesetaraan Distribusi Vaksin COVID-19 Dunia

Khoirul Anam - detikHealth
Menlu Retno LP Marsudi Foto: Lukas - Biro Pers Sekretariat Presiden
Jakarta -

Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi mengungkapkan saat ini kesenjangan distribusi dan vaksinasi di dunia masih sangat besar. Ia menyebutkan, dari sekitar 2,2 miliar dosis vaksin yang telah disuntikkan, sekitar 75% berada di 10 negara maju dan hanya 0,4% yang berada di negara-negara berpenghasilan rendah.

Lebih lanjut, Retno memaparkan berdasarkan perhitungan persentase, program vaksinasi terhadap populasi kawasan Amerika Utara telah mencapai 64,33% dari total populasi dan kawasan Eropa telah memvaksinasi 52,85%. Sementara persentase terendah dimiliki Kawasan Afrika (2,86%), dan diikuti ASEAN (8,91%).

"Angka ini masih jauh dari target WHO yang mengharapkan setidaknya 10% penduduk di setiap negara telah divaksin pada bulan September, dan 30% pada akhir Desember tahun ini," kata Retno dalam keterangan tertulis, Jumat (11/6/2021).

Adapun Retno menyebutkan untuk mengurangi tingkat kesenjangan, pemerintah Indonesia melalui COVAX Facility berupaya mendorong mekanisme dose-sharing atau berbagi vaksin. Beberapa negara seperti Amerika Serikat, Jepang, Denmark, Belgia, dan Spanyol akan menyalurkan ekstra vaksin yang dimiliki melalui skema COVAX Facility.

Dengan mekanisme ini, Retno mengatakan negara-negara tersebut menyumbangkan vaksin yang dimiliki kemudian dikelola oleh COVAX facility untuk dibagikan kepada negara lain yang memerlukan.

Sebagai salah satu co-chairs COVAX AMC Engagement Group, Retno mengatakan Indonesia memiliki tanggung jawab moral yang besar untuk terus memperjuangkan akses setara terhadap vaksin.

COVAX AMC Engagement Group merupakan upaya yang dilakukan untuk merealisasikan kesetaraan akses terhadap vaksin bagi semua negara. Salah satunya melalui keaktifan Indonesia menjadi co-sponsor proposal TRIPS waiver (penghapusan hak kekayaan intelektual) untuk produk dan teknologi yang digunakan untuk penanganan pandemi COVID-19.

Menurut Retno, pembahasan awal terhadap teks proposal ini di World Trade Organization (WTO) kemungkinan akan dimulai pada 17 Juni 2021.

"Kita semua berharap agar negosiasi terhadap proposal ini dapat diselesaikan dalam waktu cepat, untuk membantu meningkatkan produksi dan distribusi vaksin secara signifikan," ujarnya.

Sebagai informasi, Indonesia kembali menerima vaksin AstraZeneca melalui jalur multilateral, COVAX Facility, sebanyak 1.504.800 dosis. Sebelumnya pada Sabtu (5/6) lalu, Indonesia juga telah menerima 313,100 vaksin AstraZeneca dari COVAX Facility ini.

"Dengan dua kedatangan baru ini, yakni tanggal 5 Juni dan 10 Juni 2021, maka jumlah total vaksin AstraZeneca dari COVAX Facility yang diperoleh secara gratis adalah 8.228.400 dosis vaksin jadi," terang Retno.

Jika ditambahkan secara keseluruhan, maka jumlah total vaksin yang telah diterima sampai saat ini adalah 93.728.400 dosis. Dengan perincian, Sinovac sebanyak 84,5 juta, AstraZenecca sebanyak 8,2 juta dosis, dan Sinopharm sebanyak 1 juta dosis. Selain itu, rencananya Jumat ini, akan tiba 1 juta dosis vaksin Sinopharm yang hendak digunakan dalam program vaksin Gotong Royong.

(akn/up)