Selasa, 15 Jun 2021 16:39 WIB

Varian Delta Sudah Jadi 'Delta Plus', Ahli Tak Mengira Kecepatan Mutasi Corona

Firdaus Anwar - detikHealth
Indonesian flag waving and Coronavirus 2019 nCov concept. Asian outbreak in Indonesia, coronaviruses influenza as dangerous flu strain cases as a pandemic. Microscope virus Covid19 close up. Foto: Getty Images/iStockphoto/RECSTOCKFOOTAGE
Jakarta -

Indonesia sampai saat ini sudah melaporkan tiga dari empat varian Corona yang dikategorikan WHO lebih 'ganas'. Corona varian Delta atau B1617.2 khususnya menjadi perhatian karena disebut mendominasi di DKI Jakarta, Bangkalan, dan Kudus.

Di luar negeri, Public Health England melaporkan varian Delta bahkan sudah bermutasi lebih jauh lagi. Peneliti menemukan mutasi K417N pada bagian spike protein beberapa sampel virus Corona Delta yang membuatnya bisa lebih resistan terhadap terapi antibodi.

Varian Delta dengan mutasi K417N ini dijuluki sebagai varian Delta Plus.

Profesor Herawati Sudoyo dari Lembaga Biologi Molekuler Eijkman mengaku terkejut dengan kemampuan mutasi Corona SARS-COV-2. Ia tak menyangka virus bisa bermutasi dengan cepat dan menimbulkan dampak yang besar.

Hal ini menjadi tantangan tersendiri dalam proses pembuatan vaksin.

"Berdasarkan pengalaman para industri pembuat vaksin zaman dulu, kebanyakan vaksin itu lebih stabil. Dalam arti patogennya stabil. Kita sekarang itu ditantang menghadapi perang terhadap patogen yang kita belum tahu," kata Prof Hera dalam diskusi yang disiarkan Forum Merdeka Barat 9, Selasa (15/6/2021).

"Kita tidak pernah menyangka akan terjadi mutasi sehebat ini (dalam) satu setengah tahun. Secepat ini dengan dampak yang sangat-sangat besar globally," lanjutnya.

Meski demikian vaksin Corona yang ada sampai saat ini masih disarankan. Setidaknya vaksin terbukti mampu mengurangi tingkat kematian dan angka keparahan penyakit yang sampai membutuhkan perawatan di rumah sakit.

"Vaksin yang sudah ada itu terbukti mencegah kesakitan parah yang fatal. Jadi kalaupun kita masih kena enggak akan fatal, meninggal dunia," komentar ahli dari UNICEF Indonesia, Rizky Ika Syafitri, dalam kesempatan yang sama.



Simak Video "Jumlah Virus Varian Delta 1620 Kali Lebih Tinggi dari Varian Biasa"
[Gambas:Video 20detik]
(fds/up)