Senin, 21 Jun 2021 13:01 WIB

Pakar Sebut 'Herd Stupidity' Antar RI Menuju Puncak Gelombang-2 COVID-19

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Kasus COVID-19 di berbagai wilayah Indonesia kembali menanjak. Di Kabupaten Tangerang, jumlah keterisian tempat tidur di rumah karantina COVID-19 pun penuh. Foto: ANTARA FOTO/FAUZAN
Jakarta -

Corona tak juga mereda, pakar epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) Pandu Riono mengingatkan wabah COVID-19 ke depan akan jauh lebih buruk dari gelombang pertama. Pasalnya, lonjakan kasus COVID-19 belakangan terjadi usai munculnya varian baru dan protokol kesehatan yang tak lagi menjadi perhatian utama.

"Ada dua hal yang membuat gelombang dua berpotensi lebih tinggi. Karena karakteristik virus, varian, dan juga protokol kesehatan masyarakat," jelas Pandu.

Pandu menyayangkan, pandemi Corona seolah tak berarti apapun bagi masyarakat maupun warga. Ia menggambarkan situasi pandemi Corona di Indonesia bukan mencapai herd immunity, melainkan 'herd stupidity' saat warga dan pemerintah sama-sama mengabaikan COVID-19.

Walhasil, hingga kini Corona di Indonesia tak kunjung terkendali. Catatan kasus varian baru Corona terus melonjak menjadi lebih dari 140 kasus.

"Herd kan komunal, kebodohan bersama. Itu artinya kebodohan bersama, makanya Indonesia herd stupidity. Sudah tahu mudik dilarang, masih pergi. Sudah diingatkan kemungkinan varian baru, nggak peduli. Sudah tahu mudik bisa meningkatkan kasus, tidak dilarang dengan ketat. Ya baik pemerintah maupun masyarakat sama-sama abai," bebernya saat dikonfirmasi detikcom Senin (21/6/2021).

Menurutnya, puncak Corona pertama terjadi di Januari hingga Februari. Kini, pandemi COVID-19 Indonesia berada di gelombang kedua Corona tetapi belum mencapai puncaknya.

"Kalau kemarin Januari-Februari disebut puncak pertama, ya, saat ini bisa disebut kita sudah di gelombang kedua, tapi belum selesai. Dan ini kemungkinan menuju puncak gelombang kedua yang lebih tinggi dari yang pertama," lanjutnya.

Lebih lanjut, Pandu mengimbau agar ada ketentuan selektif bagi pasien yang dirawat di rumah sakit. Menurut Pandu, hanya pasien Corona yang membutuhkan alat bantuan oksigen seharusnya yang dirawat di rumah sakit.

Selebihnya, pasien Corona bergejala sedang dan ringan fokus dirawat di RS darurat COVID-19 hingga isolasi mandiri.



Simak Video "Meski Kasus Melandai, Satgas Covid-19 Ingatkan Pandemi Belum Berakhir"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)