Selasa, 22 Jun 2021 09:15 WIB

Round Up

Fakta-fakta 'Herd Stupidity', Bebal Berjamaah Berbuah Lonjakan COVID-19

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Jakarta -

Di tengah lonjakan kasus COVID-19, pakar epidemiologi Pandu Riono dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) menilai Indonesia sudah mencapai 'herd stupidity', alih-alih herd immunity. Menurutnya, baik pemerintah dan masyarakat sama-sama abai terhadap COVID-19.

Istilah 'herd stupidity' ini menggambarkan sikap abai pemerintah dan juga masyarakat terhadap pandemi Corona. Alhasil, Indonesia kini mencatatkan lonjakan kasus COVID-19, padahal sebelumnya kasus sudah terlihat perlahan mulai landai.

Selain jumlah kasus yang melonjak, saat ini juga ada lebih dari 100 kasus varian baru Corona, termasuk varian Delta yang disebut lebih cepat menular dan memperburuk gejala. Varian ini muncul di saat penerapan protokol kesehatan mulai menurun.

1. Apa itu 'herd stupidity'?

Pandu menjelaskan 'herd stupidity' adalah plesetan dari 'herd immunity' yang seharusnya menjadi salah satu solusi untuk mengakhiri pandemi COVID-19. Bertolak belakang dengan herd immunity, herd stupidity membuat pandemi semakin menjadi-jadi.

Menurutnya, masyarakat maupun pemerintah sama-sama berperan dalam membentuk herd stupidity ini. Keduanya dinilai tidak pernah kapok dengan risiko kenaikan kasus seperti pasca mudik Lebaran tahun lalu.

"Herd kan komunal, kebodohan bersama. Itu artinya kebodohan bersama, makanya Indonesia herd stupidity. Sudah tahu mudik dilarang, masih pergi. Sudah diingatkan kemungkinan varian baru, nggak peduli. Sudah tahu mudik bisa meningkatkan kasus, tidak dilarang dengan ketat. Ya baik pemerintah maupun masyarakat sama-sama abai," jelasnya kepada detikcom Senin, (21/6/2021).

2. Apa penyebabnya?

Pandu mengatakan 'herd stupidity' ini muncul karena banyak masyarakat yang meremehkan COVID-19. Hal ini yang mendorong virus untuk bereplikasi hingga berubah menjadi lebih menular.

"Indonesia sudah lama dalam kondisi herd stupidity. Perilaku manusianya yang dorong replikasi virus, memperbanyak diri, dan berubah menjadi lebih mudah menular," cuit Pandu dalam akun Twitternya.

Ini bisa dilihat dari banyaknya warga yang nekat kembali mudik Lebaran di saat transmisi Corona semakin cepat akibat sejumlah varian baru. Tak hanya itu, Pandu juga menilai pemerintah tidak tegas dalam menerapkan berbagai kebijakan di lapangan.

3. Bisa mendatangkan gelombang kedua COVID-19

Herd stupidity ini juga disebut-sebut bisa mendorong Indonesia menuju gelombang kedua COVID-19. Penyebabnya mulai dari karakteristik virus, varian, dan protokol kesehatan yang sudah tidak menjadi perhatian utama.

Dalam penjelasannya, Pandu sangat menyayangkan masyarakat yang tidak menerapkan prokes dengan benar bahkan menganggap seolah pandemi Corona itu tak berarti sama sekali. Inilah yang membuat kasus COVID-19 di Indonesia tak kunjung terkendali.

Menurutnya, puncak Corona pertama terjadi di Januari hingga Februari. Kini, pandemi COVID-19 Indonesia berada di gelombang kedua Corona tetapi belum mencapai puncaknya.

"Kalau kemarin Januari-Februari disebut puncak pertama, ya, saat ini bisa disebut kita sudah di gelombang kedua, tapi belum selesai. Dan ini kemungkinan menuju puncak gelombang kedua yang lebih tinggi dari yang pertama," lanjutnya.

(sao/up)