Senin, 28 Jun 2021 15:13 WIB

COVID-19 Varian Lambda Ada di 29 Negara, Berpotensi Besar Masuk Daftar 'VOC'

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Peru coronavirus invasion crisis abstract background. Foto: Getty Images/iStockphoto/Darryl Fonseka
Jakarta -

Muncul lagi varian baru Corona yang dikhawatirkan memicu penularan COVID-19 lebih cepat. Adalah varian lambda atau C.37 yang pertama kali diidentifikasi di Peru dan sudah menyebar ke 29 negara.

WHO mengklasifikasikan varian lambda sebagai variant of interest (VOI). Sementara, para peneliti menduga varian lambda memiliki potensi besar untuk kemudian masuk daftar variant of concern (VOC).

Para peneliti dalam studi yang dimuat di jurnal medRxiv belum peer reviewed, menemukan varian lambda memiliki beberapa perubahan mutasi yang mirip dengan varian-varian yang diwaspadai dunia. Misalnya, varian lambda memiliki mutasi L452Q dan F490S dalam receptor binding domain (RBD).

"Mutasi F490S sebelumnya telah dikaitkan dengan penurunan kerentanan terhadap netralisasi antibodi," kata peneliti Priscila Wink dari Hospital de ClĂ­nicas de Porto Alegre di Rio Grande do Sul dan rekan-rekannya.

Adapula beberapa mutasi nonsynonymous (G75V, T76I, L452Q, F490S, D614G, dan T859N) pada gen yang mengkode spike protein. Spike adalah struktur permukaan utama yang digunakan virus untuk mengikat dan menginfeksi sel inang.

Menurut para peneliti, ada delapan mutasi baru di varian lambda dengan penamaan kode C37 ini. Selain itu, varian lambda membawa 19 mutasi yang juga ditemukan di keturunan varian lainnya.

Peneliti Brasil menggambarkan kasus yang terinfeksi varian lambda. Seorang pria muda yang baru kembali dari Argentina mengalami gejala COVID-19 pernapasan hingga dirawat di rumah sakit. Sayangnya, dua hari kemudian kondisinya memburuk hingga harus dipindahkan ke unit perawatan intensif.

"Diyakini bahwa situasi sistem perawatan kesehatan kritis dan laporan baru-baru ini tentang peningkatan kematian di negara-negara ini terkait dengan meningkatnya prevalensi varian lambda," tulis Wink dan rekan.

Para peneliti mengatakan, belum mengetahui apakah varian ini lebih menular daripada varian lain atau apakah mampu lolos dari antibodi pasca vaksinasi.

"Mutasi novel S: 246-252 dan mutasi tambahan pada spike protein harus diperhitungkan untuk memahami efeknya pada kebugaran virus dan interaksi inang," kata mereka.

"Mengingat (varian lambda) VOI ini telah menyebar dengan cepat di Peru, Ekuador, Chili, dan Argentina, kami percaya bahwa ini memiliki potensi yang cukup besar untuk menjadi variant of concern," tutup para peneliti, dikutip dari News Medical.



Simak Video "Komunitas Relawan di Shanghai Turun Tangan Bantu Warga yang Karantina"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)