Selasa, 29 Jun 2021 06:43 WIB

e-Life

Kiat Proteksi Buah Hati dari COVID-19

dtv - detikHealth
Jakarta -

Anak-anak dan balita kini semakin rentan dengan persebaran virus COVID-19. Melalui konferensi pers virtual pada 18 Juni 2021, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyebutkan bahwa 1 dari 8 kasus positif COVID-19 di Indonesia adalah anak usia 0-18 tahun.

Sejak 2020, banyak anggapan bahwa anak-anak memiliki risiko rendah untuk terpapar COVID-19. Namun, data IDAI di tahun 2021 mematahkan anggapan tersebut, sehingga perlindungan anak dari COVID-19 harus diperketat dan tidak bisa dianggap sepele.

Menanggapi hal ini, Dokter Spesialis Anak dr. Chandra Mayasari, M. Biomed, Sp.A mengatakan bahwa renggangnya protokol kesehatan anak bisa jadi turut menyumbang melonjaknya kasus infeksi COVID-19 pada anak.

"Anak-anak yang awalnya emang tidak terlalu banyak terpapar COVID, sekarang karena sudah mulai aktivitas seperti biasa, anaknya mulai keluar dan tidak terlalu seketat pada saat awal," jelas dr. Chandra di acara e-Life detikcom.

Adapun gejala COVID-19 pada anak adalah beragam, antara lain demam, batuk pilek, sesak, dan gejala di saluran cerna seperti diare dan muntah. Akan tetapi, melihat tingkat keparahan infeksi yang bervariasi dari sedang hingga parah, terkadang anak yang terpapar COVID-19 juga bisa tidak menunjukkan gejala apapun.

Meski demikian, belum ada perbedaan gejala COVID-19 yang pasti antara anak-anak dan orang dewasa. Saat ini, cara pasti untuk mengetahui apakah seseorang terinfeksi COVID-19 adalah dengan hasil tes swab PCR.

Melihat situasi pandemi di Indonesia saat ini, penting untuk memperketat protokol kesehatan, terutama pada anak-anak. Hal yang bisa dilakukan antara lain adalah memakai masker yang menutupi daerah mulut dan hidung dengan baik. Kemudian, tetap mencuci tangan sesering mungkin. Tak lupa, penting untuk menjaga jarak, kurangi kerumunan, dan batasi mobilitas.

Saat ini, vaksin COVID-19 belum ada yang tersedia untuk masyarakat di bawah usia 18 tahun. Akan tetapi, perlindungan kepada anak bisa diusahakan dengan melengkapi imunisasi yang disarankan oleh IDAI dalam rekomendasi vaksinasi 2020.

"Imunisasi yang sudah direkomendasikan oleh IDAI yang ada di dalam rekomendasi vaksinasi 2020 itu sebaiknya diberikan selengkap-lengkapnya pada si kecil. Salah satu yang cukup banyak yang disarankan itu adalah pneumonia dan influenza gitu ya. Jadi, beberapa menyebutkan bahwa pemberian vaksinasi influenza sendiri bisa menurunkan risiko dari anak yang mengalami COVID untuk mengalami gejala berat gitu ya," papar dr. Chandra.

Meski demikian, peran imunisasi untuk influenza dan pneumonia tidak kemudian bisa menggantikan vaksin COVID-19 sepenuhnya. Oleh karena itu, protokol kesehatan seperti memakai masker, cuci tangan, dan jaga jarak tetap harus dijalankan.

Apabila anak telah terinfeksi COVID-19, tracing atau penelusuran kontak harus dilakukan untuk menghambat persebaran yang lebih parah. "Kalau anak sudah ketahuan COVID nih, kita tetap harus tracing kira-kira dia dapatnya di mana. Minimal sekitar idealnya tuh 30 orang yang kontak sama dia harus tetap di-trace," papar dr. Chandra.

Saat telah terkonfirmasi positif COVID-19, berbeda dengan orang dewasa yang bisa melakukan isolasi mandiri sendirian, anak-anak tetap membutuhkan pendampingan. Bagi pendamping pasien COVID-19 anak, yang bisa dilakukan untuk tetap melindungi diri sendiri adalah dengan patuh dan taat menjalankan protokol kesehatan.

Selain itu, barang-barang dan ruangan yang biasa dipakai atau dihuni si kecil juga perlu dipisah dari anggota keluarga yang lain. Hal ini termasuk alat makan, alat mandi, kamar mandi, dan lain sebagainya.

"Kalau misalnya cuma ada satu kamar mandi, sebaiknya dibersihkan, disinfeksi di daerah-daerah yang sering tersentuh misalnya pegangan pintu, dan tunggu dulu. Jadi kalau misalnya sudah dipakai gitu daerah-daerah sudah dibersihkan misalnya flush di toilet atau kran gitu yang sering terpegang gitu ya. Tunggu 30 menit dulu baru gunakan oleh anggota keluarga yang lain," jelas dr. Chandra.

Tak lupa, orang tua atau pendamping anak yang terkena COVID-19 harus memberikan asupan nutrisi yang baik, serta beri penghiburan pada si kecil agar ia tidak merasa tertekan.

dr. Chandra juga menekankan pentingnya pemahaman bersama mengenai COVID-19 dalam keluarga. "Dalam keluarga itu harus satu kata dulu, deh. Harus sama-sama setuju kalo COVID ini nyata, COVID ini real, COVID ini bisa terjadi dan bisa juga menginfeksi anak-anak kita," tuturnya.

Apabila pemahaman dalam keluarga mengenai keberadaan COVID-19 sudah sejalan, maka edukasi tentang protokol kesehatan pada anak harusnya lebih mudah dijalankan. Selain itu, orang tua adalah pemberi contoh terdekat dari anak. Maka, penting bagi orang tua untuk juga taat protokol kesehatan agar anak meniru kebiasaan tersebut.

(gah/gah)