Minggu, 04 Jul 2021 10:33 WIB

Kimia Farma Diagnostika Vaksinasi 1.000 Anak Muda Pekerja Fintech

Yudistira Imandiar - detikHealth
Ilustrasi vaksinasi Foto: iStock/Inside Creative House
Jakarta -

PT Kimia Farma Diagnostika menggelar vaksinasi kepada 1000 anak muda yang bekerja di industry financial technology (fintech). Para peserta vaksinasi berasal dari perusahaan anggota Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) dan perusahaan peer to peer landing.

Plt. Direktur Utama PT Kimia Farma Diagnostika Agus Chandra mengatakan para anak muda tetap harus mewaspadai varian baru virus Corona. Oleh sebab itu, penting bagi mereka untuk segera melakukan vaksinasi agar imunitas terjaga dari penularan COVID-19 di tengah tingginya aktivitas mereka baik di lingkungan kerja maupun sosial.

"Mutasi COVID-19 varian Delta memiliki tingkat penyebaran yang lebih cepat, terutama mulai menginfeksi anak-anak di bawah usia 18 tahun. Oleh karena itu, para orang tua perlu memperketat lagi mobilitas anak-anaknya agar tidak terpapar varian baru tersebut. Demikian juga para anak muda perlu vaksinasi untuk menjaga kesehatan dan imunitasnya," jelas Agus dalam keterangan tertulis, Minggu (4/7/2021).

Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) Adrian Gunadi menyatakan para anak muda yang bekerja di sektor fintech sangat antusias mengikuti vaksinasi Gotong Royong yang dilaksanakan tenaga kesehatan dari PT Kimia Farma Diagnostika. Sebagai bagian dari sektor keuangan yang merupakan sektor esensial, Adrian menyampaikan pihaknya terus mengupayakan agar semua karyawan dan keluarga besar penyelenggara fintech pendanaan dan ekosistem pendukungnya terjaga, dan terlindungi dari risiko terinfeksi COVID-19.

"Kami berterima kasih kepada PT Kimia Farma Tbk dan PT Kimia Farma Diagnostika yang telah melaksanakan Vaksinasi Gotong Royong terhadap para karyawan perusahaan Fintech yang sebagian besar adalah generasi milenial. Ketika seluruh pekerja sektor Fintech divaksinasi, itulah kontribusi sektor ini untuk herd immunity di Indonesia," papar Adrian.

Hal tersebut juga diamini Kuseryansyah, Direktur Eksekutif AFPI. Ia menyebut generasi muda era teknologi ini memerlukan perlindungan kesehatan.

"Generasi milenial ini ternyata antusias mengikuti vaksinasi. Mereka meyakini dengan vaksinasi ini kegiatan mereka akan terlindungi dari Virus Corona. Kami juga mengapresiasi tenaga kesehatan, dan peserta vaksin dan tim sekretariat AFPI atas kerjasama yang baik sehingga vaksinasi ini berjalan lancar," ungkapnya.

Seperti diketahui, belakangan Indonesia menghadapi lonjakan kasus COVID-19. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melaporkan varian Delta SARS-CoV-2 (varian B.1.617.2, pertama kali terdeteksi di India) yang telah ditemukan beredar di enam provinsi di Indonesia, yaitu Sumatera Selatan, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur memiliki tingkat penularan lebih tinggi.

Guna mengantisipasi penyebaran virus tersebut, pemerintah telah mengambil langkah Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat di Jawa Bali selama 3 - 20 Juli 2021.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes DKI Jakarta Dwi Oktavia menjelaskan lonjakan kasus COVID-19 juga dipengaruhi meningkatkan penularan pada anak di bawah usia 18 tahun. Hampir 260 ribu kasus terkonfirmasi berada di rentang usia 0-18 tahun. Lebih dari 108.000 kasus berada pada rentang usia 12-17 tahun. Tercatat lebih dari 600 anak usia 0-18 tahun meninggal, dengan 197 anak diantaranya berumur 12-17 tahun atau angka Case Fatality Rate pada kelompok usia tersebut adalah 0,18%.

Sebagai upaya melindungi kesehatan anak usia di bawah 18 tahun, Kementerian Kesehatan merilis Surat Edaran No. Hk.02.02/I/ 1727 /2021 tentang Vaksinasi Tahap 3 Bagi Masyarakat Rentan Serta Masyarakat Umum Lainnya Dan Pelaksanaan Vaksinasi Covid-19 Bagi Anak Usia 12-17 Tahun.



Simak Video "Pemerintah Genjot Vaksinasi Covid-19 Jelang Libur Akhir Tahun"
[Gambas:Video 20detik]
(ega/ega)