Minggu, 04 Jul 2021 18:17 WIB

Banyak Varian Baru Corona? Pakar Tuding yang Tak Divaksin Jadi Pabriknya

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Antusiasme warga untuk mendapatkan vaksin COVID-19 di Trans Studio Mall Cibubur, Depok, Jawa Barat, terpantau sangat tinggi. Beginilah potret saat dari proses antre hingga vaksinasi. Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -

Seorang ahli penyakit menular mengungkapkan orang yang tidak divaksinasi tidak hanya merugikan dirinya sendiri, tapi juga orang lain. Ia juga menyebut orang yang tidak divaksinasi berpotensi menjadi 'pabrik' yang melahirkan beragam varian baru virus Corona.

"Orang yang tidak divaksinasi adalah pabrik varian potensial. Semakin banyak orang yang tidak divaksinasi, semakin banyak peluang virus berkembang biak," jelas Dr William Schaffner, ahli sekaligus profesor di Divisi Penyakit Menular di Vanderbilt University Medical Center, dikutip dari CNN, Minggu (4/7/2021).

"Ketika itu terjadi, itu (virus) bermutasi dan bisa menimbulkan mutasi varian yang bahkan lebih serius di masa depan," lanjutnya.

Secara alami, semua virus bisa dan akan bermutasi. Meskipun virus Corona tidak terlalu rentan terhadap mutasi, virus ini terus berubah dan berevolusi. Perubahan itu bisa melemahkan virus atau membuatnya lebih kuat.

Tetapi, terkadang virus mengalami mutasi acak yang memberikan banyak keuntungan. Misalnya kemampuan menular yang lebih baik, kemampuan replikasi yang lebih efisien, atau kemampuan untuk menginfeksi berbagai macam inang.

Akibatnya, virus yang memiliki keunggulan itu akan mendominasi partikel virus yang menginfeksi seseorang. Jika orang yang terinfeksi itu menularkan virus ke orang lain, yang ditularkan adalah virus versi mutannya.

COVID-19 Makin Beragam! Ini Beda Varian Lambda, Delta, Kappa, DkkCOVID-19 Makin Beragam! Ini Beda Varian Lambda, Delta, Kappa, Dkk Foto: infografis detikHealth

"Ketika mutasi muncul pada virus, yang bertahan adalah yang membuat virus lebih mudah menyebar di populasi," kata ahli mikrobiologi dan imunologi di Sekolah Kesehatan Masyarakat Johns Hopkins Bloomberg, Andrew Pekosz.

"Setiap kali virus berubah, itu memberi virus platform yang berbeda untuk menambahkan lebih banyak mutasi. Sekarang kami memiliki virus yang menyebar lebih efisien," imbuhnya.

Saat ini, berbagai varian baru Corona sudah menyebar di seluruh dunia. Mulai dari varian Alpha, varian Beta, Kappa, Lambda, dan Delta. Kini, salah satu dari varian tersebut yaitu Delta menjadi varian yang mendominasi di banyak negara.

Salah satu cara untuk melindungi diri dari berbagai varian tersebut adalah dengan vaksinasi. Itu sebabnya pada ahli kesehatan mendorong masyarakat untuk mendapatkan vaksin COVID-19.

"Semakin kita membiarkan virus menyebar, semakin besar peluang virus itu untuk berubah," kata Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) beberapa waktu lalu.

Jika virus itu mencoba menginfeksi seseorang yang memiliki kekebalan, virus itu mungkin gagal atau muncul berhasil menyebabkan infeksi ringan/tanpa gejala. Dalam hal ini, virus akan bereplikasi sebagai respons terhadap tekanan dari sistem kekebalan yang prima.

Virus yang berhasil menyerang tubuh akan membuat perubahan acak yang membuatnya tidak terlihat oleh sistem kekebalan tubuh. Maka dari itu, populasi orang yang tidak divaksin bisa memberikan kesempatan virus Corona untuk bermutasi.



Simak Video "Pakar Ingatkan Kemungkinan Varian Covid-19 Baru Lahir di Indonesia"
[Gambas:Video 20detik]
(sao/up)