Selasa, 06 Jul 2021 21:44 WIB

Punya Gejala COVID-19 Anosmia Bisa Jadi Malah Pertanda Baik, Kenapa Begitu?

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Woman pinches nose with fingers looks with disgust away something stinks bad smell isolated on gray background. Foto: Getty Images/iStockphoto/SIphotography
Jakarta -

Studi terbaru dalam Journal Internal Medicine mengidentifikasi 86 persen pasien COVID-19 kehilangan indra penciuman dan perasa atau anosmia. Namun, mayoritas dari mereka, sekitar 55 persen hanya mengalami gejala COVID-19 ringan.

Hal ini yang kemudian diyakini ahli, pasien COVID-19 dengan gejala anosmia menunjukkan pertanda baik. Meski begitu, alasan pengidap gejala COVID-19 anosmia tak banyak mengeluhkan gejala berat belum dijelaskan dalam studi terkait.

Dugaannya sejauh ini, ada kemungkinan mereka yang mulanya mengeluhkan gejala COVID-19 ringan seperti anosmia memiliki antibodi lebih tinggi.

"Namun, jawaban pasti tetap sulit dipahami," jelas assistant professor of rhinology di Columbia University, dikutip dari Healthline.

"Kita tahu bahwa kehilangan penciuman pada COVID-19 (anosmia) lebih dari mekanisme sederhana yang kita lihat dengan infeksi saluran pernapasan yang terjadi musiman, di mana gejala umum hidung tersumbat dan pilek mengakibatkan aliran udara yang buruk dan berkurangnya pengiriman bau ke daerah hidung yang punya fungsi terkait penciuman," katanya.

Sedikit yang mengalami gejala COVID-19 berat

Studi yang menganalisis 2.581 pasien COVID-19 di 18 rumah sakit Eropa juga menemukan ada 55 persen pasien COVID-19 anosmia mengalami gejala ringan. Sementara, 37 persen pasien COVID-19 keluhan anosmia lainnya mengalami gejala sedang hingga kritis, dan pasien COVID-19 dengan gejala kritis sebanyak 6,9 persen.

Sebagian besar pasien gejala COVID-19 anosmia akhirnya sembuh

"Menurut penelitian, sebagian besar orang memulihkan indra penciumannya dalam waktu 3 minggu," kata Dr. Robert Glatter, seorang dokter darurat di Lenox Hill Hospital di New York.

"Yang membutuhkan waktu pemulihan COVID-19 hingga 2 bulan sedikit, yaitu 15 persen, dan yang membutuhkan pemulihan COVID-19 hingga 6 bulan hanya di bawah 5 persen," sambungnya.

Menurutnya, data pasien COVID-19 keluhan anosmia tersebut tentu masih perlu dipantau.

Bagaimana jika tiba-tiba mengalami gejala COVID-19 anosmia?

Overdest menyebut gejala COVID-19 anosmia bisa diatasi dengan merangsang kembali penciuman memakai essential oil. Bisa juga dengan rutin mengonsumsi suplemen.

Sebuah uji klinis yang sedang berlangsung saat ini tengah mengkaji suplemen omega-3 fatty acid untuk mengobati gejala COVID-19 anosmia.



Simak Video "Hanya Mengingatkan! Hati-hati dengan Varian Mu"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)