ADVERTISEMENT

Jumat, 09 Jul 2021 14:15 WIB

Muncul Varian Delta, Pfizer Ajukan Izin untuk Vaksin Corona Dosis Ketiga

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
A health care professional prepares a Pfizer-BioNTech COVID-19 vaccine at Sheba Tel Hashomer Hospital in Ramat Gan, Israel, Tuesday, Jan. 12, 2021. Israel has struck a deal with Pfizer, promising to share vast troves of medical data with the drugmaker in exchange for the continued flow of its COVID-19 vaccine. Critics say the deal is raising major ethical concerns, including possible privacy violations and a deepening of the global divide between wealthy countries and poorer populations, including Palestinians in the occupied West Bank and Gaza, who face long waits to be inoculated. (AP Photo/Oded Balilty) Foto: AP/Oded Balilty
Jakarta -

Beberapa waktu lalu, studi di Israel menunjukkan bahwa efektivitas vaksin Pfizer mengalami penurunan menjadi 64 persen terhadap varian Delta. Menanggapi ini, Pfizer mengaku hal itu disebabkan adanya risiko infeksi ulang yang lebih besar setelah enam bulan vaksinasi terhadap varian tersebut.

"Penurunan efektivitas vaksin yang baru-baru ini dilaporkan di Israel sebagian besar disebabkan oleh infeksi pada orang yang sudah divaksinasi pada Januari atau Februari," ungkap Chief Scientific Officer Pfizer, Mikael Dolsten, yang dikutip dari Reuters, Jumat (9/7/2021).

Dolsten mengaku kemanjuran vaksin terhadap varian baru virus Corona untuk lansia usia 80-an paling banyak mengalami penurunan setelah mendapat suntikan selama enam bulan.

"Namun, meski data dari Israel dan Inggris menunjukkan menurunnya tingkat antibodi, vaksin tetap sekitar 95 persen efektif melawan penyakit parah," ujarnya.

Dolsten mengatakan bahwa data awal dari studi perusahaan sendiri menunjukkan bahwa dosis penguat ketiga atau vaksin booster ini bisa menghasilkan tingkat antibodi yang 5-10 kali lipat lebih tinggi dibandingkan setelah dosis kedua.

"Ini menunjukkan bahwa dosis ketiga atau vaksin booster akan menawarkan perlindungan yang menjanjikan," lanjutnya.

Dolsten mengatakan beberapa negara di Eropa dan negara lain sudah mendekati Pfizer untuk membahas dosis vaksin booster. Pfizer juga sudah meminta regulator Amerika Serikat (AS) untuk mengesahkan vaksin booster tersebut bulan depan.

"Vaksin Pfizer sangat aktif melawan varian Delta. Kemungkinan ada risiko infeksi ulang karena antibodi, seperti yang diperkirakan, berkurang," kata Dolsten.

Menanggapi ini, FDA dan CDC pun mengungkapkan akan siap memberikan izin jika ada penelitian yang mendukung terkait kebutuhan vaksin booster tersebut.

Sebelumnya, berdasarkan penelitian dari Kementerian Kesehatan Israel melihat adanya penurunan tajam pada efikasi dari vaksin Pfizer dalam mencegah infeksi virus Corona akibat penyebaran varian Delta.

Data yang dikumpulkan bulan lalu tersebut menunjukkan bahwa vaksin Pfizer 64 persen lebih efektif dalam mencegah infeksi pada orang yang divaksinasi penuh. Sebelumnya, penelitian tersebut menunjukkan efikasi Pfizer sebesar 94 persen.



Simak Video "Vaksin Pfizer Dinilai 73% Efektif Diberikan Pada Anak di Bawah 5 Tahun"
[Gambas:Video 20detik]
(sao/kna)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT