Jumat, 09 Jul 2021 18:00 WIB

Fakta-fakta Varian Lambda yang Mendominasi COVID-19 di Amerika Selatan

Firdaus Anwar - detikHealth
Peru coronavirus invasion crisis abstract background. Foto: Getty Images/iStockphoto/Darryl Fonseka
Jakarta -

Berbagai varian COVID-19 saat ini menjadi masalah di dunia. Varian Delta (B1617.2) dilaporkan mendominasi di Eropa dan Asia, sementara COVID-19 varian Lambda (C37) menjadi biang kerok di bagian Amerika Selatan.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 15 Juni lalu telah mengakui COVID-19 varian Lambda sebagai variant of interest (VoI). Ini berarti COVID-19 varian Lambda dianggap memiliki potensi bahaya karena bisa jadi bersifat lebih mudah menular, menyebabkan gejala lebih parah, atau bisa menghindari imunitas sehingga perlu diteliti lebih jauh.

Menurut WHO, COVID-19 varian Lambda berkontribusi terhadap sekitar 81 persen kasus positif di Peru. Varian ini telah menyebar ke 29 negara, sebagian besar berada di wilayah Amerika Selatan.

"Otoritas di Peru melaporkan 81 persen kasus COVID-19 yang diperiksa sejak April 2021 berkaitan dengan Lambda. Argentina melaporkan peningkatan kasus Lambda sejak minggu ketiga bulan Februari 2021, dan sejak 2 April sampai 19 Mei 2021, varian ini berkontribusi terhadap 37 persen kasys yang diperiksa," kata WHO seperti dikutip dari CNBC, Jumat (9/7/2021).

WHO menyebut varian Lambda menular dengan tingkat yang tampaknya hampir sama dengan varian Gamma, lebih cepat dari varian Alpha.

Ahli penyakit infeksi WHO, Maria Van Kerkhove, mengatakan namun sampai saat ini varian Lambda belum dikategorikan sebagai variant of concern (VoC) karena peneliti masih perlu bukti yang benar-benar kuat.

"Varian ini akan menjadi variant of concern bila bisa telah benar-benar tebukti lebih menular, menyebabkan gejala lebih parah, atau sebagai contoh berdampak terhadap upaya pencegahan yang telah kita lakukan," papar Maria.



Simak Video "Menkes Pantau Perkembangan Varian Baru Covid, Salah Satunya Lambda"
[Gambas:Video 20detik]
(fds/up)