Senin, 12 Jul 2021 07:36 WIB

Positif COVID-19 tapi Tanpa Gejala, Simak Tips Isoman dari dr Reisa

Khoirul Anam - detikHealth
dr. Reisa Broto Asmoro Foto: dok. BNPB
Jakarta -

Isolasi mandiri (isoman) diperlukan bagi para pasien COVID-19 tanpa gejala serius. Isoman bertujuan agar pasien tidak menyebarkan COVID-19 ke orang lain.

Juru Bicara Pemerintah untuk COVID-19 dan Duta Adaptasi Kebiasaan Baru, dr Reisa Broto Asmoro menyampaikan tips dalam menjalani isoman. Hal pertama yang perlu dilakukan adalah segera melapor ke Ketua Rukun Tetangga (RT) atau Ketua Rukun Warga (RW) atau satgas setempat. Mereka akan membantu untuk melaporkan ke Puskesmas terdekat.

Menurut dr Reisa, pada tahap ini, ada baiknya setelah hasil tes didapat segera membuka kontak dengan dokter dari pelayanan jasa kesehatan daring atau telemedis yang akan memandu dan memberi saran selama masa isoman.

"Kabar baik bagi warga Jabodetabek, ada 11 penyedia jasa layanan telemedis sudah akan siap memberikan konsultasi bahkan obat-obatan dan vitamin gratis karena sudah menjalin kerja sama dengan Kementerian Kesehatan," katanya dikutip dari laman covid19.go.id, Minggu (11/7/2021).

Ia juga mengingatkan untuk memilih lokasi isoman yang terpisah dan tidak memungkinkan kontak dengan anggota keluarga. Pasien harus memastikan ruangannya bersih, ventilasi, dan sirkulasi udara tempat isoman tersebut memadai.

Pasien diimbau untuk tidak berbagi alat makan dan alat mandi. Bahkan, dr Reisa menyarankan membawa sendiri perlengkapan ibadah.

Persiapan lainnya adalah stok vitamin dan suplemen. Pasien perlu memastikan bahwa obat dan suplemen tersebut sudah berizin Badan POM.

Pasien juga perlu melakukan konsultasi dan meminta resep dokter apabila membutuhkan obat-obatan lainnya. Selain itu, perbanyak minum air matang dan bersih atau air mineral agar tidak dehidrasi dan mengonsumsi makanan bergizi seimbang.

"Siapkan oximeter untuk mencatat saturasi oksigen di tubuh termometer untuk periksa suhu badan dan kalau bisa alat pengukur tensi darah," ujar dr Reisa.

Sementara itu, dr Reisa mengimbau untuk memaastikan alat komunikasi telepon genggam selalu siap pakai. Menurutnya, hal ini penting karena selama 10 hari pasien tidak bisa berkontak langsung dengan siapa pun, termasuk anggota keluarga.

"Biasakan matahari masuk ke tempat isolasi dan biasakan berjemur minimal 30 menit setiap harinya," kata dr Reisa.

Ia mengatakan, pasien harus membuat jadwal konsultasi dengan dokter selama masa isoman. Sehingga dokter bisa merujuk ke rumah sakit apabila timbul gejala berat.

"Insyaallah, apalagi kita sudah menerapkan langkah-langkah tadi, kondisi tubuh makin membaik, imunitas melawan dengan agresif serangan si virus dan kita segera kembali negatif," ujarnya.

Tindakan ketiga yang bisa dilakukan, lanjut dr Reisa, adalah membiasakan membuang limbah masker medis dengan benar.

"Masker yang sudah dipakai, dikumpulkan di satu tempat. Kalau hanya satu, bisa langsung semprotkan disinfektan atau rendam di larutan pemutih atau klorin. Robek tali dan bagian tengah masker agar rusak dan tidak dapat dipergunakan ulang orang lain, masukkan ke dalam wadah tertutup atau dibungkus plastik, dan buang ke tempat sampah," lanjutnya.

Tahap selanjutnya adalah mencuci tangan dengan baik dan benar, terutama dengan sabun dan air mengalir selama minimal 20 detik setelah menangani limbah masker medis.



Simak Video "Fasilitas Masih Jadi Masalah di Tengah Naiknya Kesadaran Cuci Tangan"
[Gambas:Video 20detik]
(akn/ega)