Selasa, 13 Jul 2021 14:00 WIB

Situasi COVID-19 di China, Dibuat Repot Urus Corona Varian Delta

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Tim peneliti WHO mendatangi Wuhan,China, untuk selidiki asal-usul virus Corona. Salah satu lokasi yang ddatangi tim peneliti WHO adalah Pasar Baishazhou. Foto: AP Photo/Ng Han Guan
Jakarta -

Kemunculan virus Corona varian baru membuat banyak negara kelimpungan. Pasalnya beberapa varian baru tersebut memiliki tingkat penularan yang lebih tinggi daripada varian aslinya.

Setelah berbulan-bulan pengumpulan data, para ilmuwan setuju varian Delta adalah versi virus Corona yang paling menular di seluruh dunia. Menyebar sekitar 225 persen lebih cepat dari versi asli virus.

Kerepotan menghadapi varian Delta juga dialami oleh pemerintah China. Li Bin, wakil menteri Komisi Kesehatan Nasional, mengatakan pihak berwenang akan terus fokus mencegah penyebaran infeksi impor secara lokal dan memperkuat pemeriksaan barang impor.

"Beberapa kota baru-baru ini melihat klaster lokal yang disebabkan oleh kasus impor varian Delta, termasuk Guangzhou, Shenzhen dan Ruili," katanya kepada wartawan di Beijing, dikutip dari SCMP, Selasa (13/7/2021).

"Gelombang ini mengingatkan kita bahwa kita tidak bisa melonggarkan langkah-langkah pengendalian pandemi kita," sambungnya.

Pemerintah China telah mengunci Rulli, kota di Prefektur Dehong, di barat Provinsi Yunnan. Wilayah ini berbatasan langsung antara China dan Myanmar. Mereka juga membatasi akses keluar-masuk negaranya.

Namun keputusan tersebut mendapat protes dari Persatuan Pelajar Internasional China, yang mengkampanyekan kembalinya mahasiswa asing ke negara tersebut setelah setahun tak bisa melanjutkan studi.



Simak Video "Jumlah Virus Varian Delta 1620 Kali Lebih Tinggi dari Varian Biasa"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/naf)