Kamis, 15 Jul 2021 11:53 WIB

4 Fakta Virus Corona Varian Lambda, Asal Usul hingga Gejalanya

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Peru coronavirus invasion crisis abstract background. Varian Lambda. (Foto ilustrasi: Getty Images/iStockphoto/Darryl Fonseka)
Jakarta -

Kemunculan varian Lambda menambah daftar varian baru Corona yang sudah menyebar di banyak negara di dunia. Daftar varian yang kini banyak diketahui masyarakat terdiri dari varian Alpha, Beta, Gamma, Delta, hingga Kappa.

Seperti varian-varian yang ada sebelumnya, varian Lambda juga disebut-sebut lebih mudah menular dibandingkan varian aslinya. Berikut beberapa fakta soal varian Lambda yang dikutip dari Science Focus.

1. Terdeteksi pertama kali di Peru

Varian Lambda yang dikenal sebagai strain C37 ini pertama kali terdeteksi di Peru pada Agustus 2020 lalu. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) akhirnya mengklasifikasikan varian Lambda sebagai variant of interest (VoI) di tingkat global pada 15 Juni 2021.

Hal itu dilakukan WHO karena menganggap varian Lambda memiliki mutasi dengan implikasi yang dicurigai bisa meningkatkan risiko penularan dan tingkat keparahannya serta sudah terdeteksi di banyak negara.

Pimpinan teknis WHO, Dr Maria Van Kerkhove, mengatakan pihaknya tengah melacak varian ini untuk melihat apakah harus mengklasifikasikannya sebagai variant of concern (VoC). Menurut Maria, ini akan terjadi jika strain tersebut menunjukkan 'sifat penularan yang meningkat' atau 'jika meningkatkan keparahan'.

2. Punya mutasi yang berpotensi lebih menular

Meski belum diketahui pasti varian Lambda jauh lebih mudah menular, para ilmuwan menemukan bahwa varian ini membawa sejumlah mutasi. Mutasi tersebut berpotensi menyebabkan peningkatan penularan atau peningkatan resistensi terhadap antibodi, baik yang diberikan oleh vaksinasi maupun dari infeksi sebelumnya.

Salah satu mutasi yang diidentifikasi dalam galur Lambda disebut para peneliti sebagai T859N. Selain itu, ada mutasi lain yaitu L452Q yang dilaporkan miri dengan mutasi pada varian Delta dan Epsilon yang diyakini bisa mempengaruhi kerentanan terhadap antibodi.

3. Efek terhadap vaksin Corona

Para peneliti di NYU Grossman School of Medicine menguji efektivitas vaksin dengan platform mRNA, seperti vaksin Pfizer dan Moderna terhadap varian Lambda. Menurut hasil mereka, ada 'resensi parsial terhadap netralisasi', tetapi tidak menyebabkan hilangnya perlindungan yang signifikan terhadap infeksi pada individu yang sudah divaksinasi dengan kedua vaksin tersebut.

Namun, dalam makalah pra-cetak lain menunjukkan varian Lambda memiliki mutasi yang mampu melarikan diri dari antibodi penetral yang muncul dari vaksin CoronaVac. Meski begitu, para peneliti menekankan perlu adanya penelitian lebih lanjut untuk memvalidasi efektivitas vaksin terhadap varian Lambda ini.

4. Gejala varian Lambda

Saat ini, belum ada penelitian spesifik yang menunjukkan bahwa gejala varian Lambda ini berbeda dengan gejala dari varian yang lain. Beberapa gejala yang umumnya muncul saat terinfeksi varian Lambda maupun varian lainnya terdiri dari:

  • Demam
  • Batuk terus menerus
  • Kehilangan kemampuan indra penciuman dan perasa


Simak Video "Mengenal Varian Corona Lambda yang Tengah Diselidiki WHO"
[Gambas:Video 20detik]
(sao/up)