Jumat, 16 Jul 2021 06:24 WIB

Satgas COVID-19: Kalau Positif, Jangan Tertutup!

Nurcholis Ma - detikHealth
dr. Alexander K Ginting Foto: Nurcholis Ma'arif
Jakarta -

Masyarakat diminta tidak tertutup jika dirinya positif terinfeksi COVID-19. Hal tersebut agar penanganan pasien, penanganan pandemi, dan penyebaran COVID-19 di Indonesia bisa terkendali di tengah kenaikan kasus akibat varian baru.

Ketua Bidang Penanganan Kesehatan Satgas Penangan COVID-19, Brigjen (Purn) dr. Alexander K Ginting menjelaskan meningkatnya kasus harian COVID-19 di Indonesia belakangan ini sudah sesuai prediksi ahli epidemiologi. Namun, ia menegaskan di balik angka positif yang meningkat itu, terdapat jumlah testing yang tinggi juga.

"Kalau ada kasus harian yang cukup tinggi, berarti testing-nya tinggi. Di samping testing tinggi, pencatatan dan report-nya adalah baik," ujarnya dalam talkshow yang disiarkan YouTube BNPB Indonesia kemarin, dikutip Jumat (15/7/2021).


"Yang harus kita jaga adalah transmisi itu jangan menjadi tidak terkendali, sporadis, khususnya di level masyarakat, di level keluarga," imbuhnya.

Menurut dr Alex, perawatan masyarakat yang terkonfirmasi COVID-19 harus ditata dengan baik. Misalnya bagi pasien yang tidak mengalami gejala bisa isolasi mandiri di rumah. Jika rumah tidak memadai, bisa menggunakan fasilitas isolasi terpusat seperti Rusun Nagrak.

Adapun pasien COVID-19 yang dibawa ke rumah sakit hanyalah mereka yang memiliki gejala sedang dan berat serta mempunyai penyakit komorbid. Pengaturan inilah yang menurutnya penting di saat seperti ini. Selain itu, ia meminta masyarakat tidak tertutup jika terkonfirmasi COVID-19.

"Kalau kita positif jangan tertutup, jangan kita sembunyikan. Kalau kita positif, lapor ke Satgas RT/RW, nanti ada posko desa, terus puskesmas akan membantu mereka yang membutuhkan," ujarnya.

"Kita harapkan intinya adalah posko desa dan kelurahan yang mengorkestrasi seluruh isolasi, seluruh pemeriksaan yang ada di desa tersebut. Yang penting ada komunikasi yang baik antara RT dan warga," imbuhnya.

Lebih lanjut ia mengungkapkan bagi mereka yang isolasi mandiri di rumah harus terus berkoordinasi dengan stakeholder terkait, menjalankan panduan, dan bisa memanfaatkan layanan yang telah disediakan pemerintah seperti telemedis. Lalu jika keadaan memburuk bisa lapor ke stakeholder terkait.

"Kita nggak perlu buat panik, yang penting adalah kita positif kita nggak boleh tertutup. Isolasi di rumah, jalankan panduan, berkoordinasi, dan ada instrumen yang disiapkan pemerintah, telemedis, dapat obat dan kemudian dapat pelayanan," ujarnya.

"Kalau kondisi memburuk tidak boleh ditahan di rumah. Mengapa ada antre di UGD itu semua (karena) isomannya yang kurang terpimpin, kurang konsultasi. Sudah 10 hari baru ke rumah sakit, sudah sesak. Sebenarnya kalau tadinya nggak bergejala bisa dipertahankan," imbuhnya.

(mul/ega)